Etnografi

Etnografi Akun tentag kazanah kebudayaan

02/11/2024

Lampu ini terpasang di kantor pemadam kebakaran, Livermore, California, Amerika Serikat.

Rekor ini dicatat pada tahun 1972. Selain tercatat di Guinnes World Record, lampu ini juga tercatat di Ripley's Believe It or Not, dan General Electric.

Diketahui, Centennial Light Bulb sudah menyala sejak tahun 1901 dan masih terus menyala sampai saat ini. Dengan demikian, usia Centennial Light Bulb sudah mencapai 120 tahun.

Sumber: IDN Times

02/11/2024

Luzon Bleeding-heart (Gallicolumba luzonica) adalah spesies burung merpati (Columbidae) dari genus Gallicolumba. Genus ini terkenal karena sebagian besar spesiesnya dikenal sebagai "dada berdarah/bleeding-heart", karena memiliki bercak atau motif berwarna merah darah tepat di bagian dada. Inilah yang memicu merpati ini terlihat seolah-olah terluka. Secara visual, jantan dan betina terlihat sangat mirip, meskipun betina secara keseluruhan lebih kusam, dan bercak merah pada dada betina lebih kecil dan pucat.

Luzon Bleeding-heart termasuk burung omnivora yang memakan buah, biji, serangga, dan cacing. Burung endemik Filipina ini mendiami wilayah tengah dan selatan Luzon. Mereka mendiami hutan dataran rendah dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan di hutan. Burung-burung ini bertengger dan bersarang di pohon dengan ketinggian rendah hingga sedang, serta semak dan tanaman merambat, semak belukar menjadi benteng pertahanannya dari para pemangsa.

Merpati ini sangat tertutup dan pemalu. Ketika didekati, mereka hanya terbang dalam jarak pendek dan melarikan diri dengan berjalan kaki. Mereka terbang bersama pasangannya atau dalam kawanan kecil. Di alam liar, merpati ini relatif jinak, namun dapat menjadi agresif di penangkaran. Sering kali, kawanan harus dipisahkan dan hanya satu pasangan di setiap kandang. Meskipun tergolong pemalu, mereka sangat teritorial, jantan tidak akan takut mempertahankan wilayahnya dengan membuat panggilan peringatan, hingga bertarung.

Sumber : Animalia | Animal Diversity | Kumparan

🤣🤣🤣🤣
11/05/2024

🤣🤣🤣🤣

05/02/2024



Di ujung utara Pulau Selatan, Selandia Baru, ada sebuah bentangan air yang sempit dan berbahaya yang disebut French Pass. Dahulu, banyak kapal sangat menghindarinya, karena arus yang sangat kuat dan dapat menyeret kapal untuk menabrak bebatuan yang ada di sekitar.

Padahal, andai saja bisa dilewati, French Pass dapat menjadi jalan pintas bagi kapal yang ingin berlayar di antara Pulau Utara dan Selatan. Jika tidak, kapal-kapal harus memutar Pulau D'Urville, melintasi lautan yang luas, dan menghabiskan waktu lebih lama. Ketika Pulau Selatan hendak dipetakan untuk pertama kalinya, pada tahun 1827 kali, oleh seorang laksamana dari Prancis, Jules Dumont d'Urville, ia bersama dengan kru kapalnya bahkan hampir saja celaka karena memasuki celah tersebut.

Namun, enam puluh tahun kemudian, French Pass justru mulai menjadi rute yang sering dilalui oleh banyak kapal, untuk melakukan perjalanan antara Wellington dan Nelson. Apakah J.D. d'Urville telah berhasil mengetahui celah yang lebih aman untuk dilalui? Tidak. French Pass tetap menjadi jalur yang ganas dan berbahaya. Akan tetapi, kapal-kapal setelah J.D. d'Urville dapat melintasi jalur tersebut secara aman berkat bantuan dari seekor lumba-lumba.

Lumba-lumba tersebut termasuk dalam jenis lumba - lumba Risso (Grampus Griseus) dan mendapatkan julukan Pelorus Jack dari para pelaut. Jenis kelaminnya tidak pernah diidentifikasi secara positif, namun jika dilihat dari ukurannya, maka dipastikan bahwa Pelorus Jack adalah jantan.

Pelorus Jack pertama kali terlihat pada tahun 1888, ketika Ia muncul di depan sebuah sekunar yang hendak mendekati French Pass. Awalnya, awak sekunar ini ingin menombaknya. Namun, istri kapten membujuk mereka untuk tidak melakukannya. Pelorus Jack pun selamat dan justru memberikan bantuan kepada sekunar ini, dengan memandunya melalui saluran sempit. Ia berada tepat di samping sekunar selama 12 jam.

Semenjak kemunculannya, Pelorus Jack telah setia memandu banyak kapal di perairan berbahaya itu, kurang lebih selama 24 tahun. Pelorus Jack terakhir kali terlihat pada tahun 1912.

Pada tahun 1904, seseorang di kapal SS Penguin mencoba menembak Pelorus Jack dengan senapan. Meskipun ada upaya pembunuhan, Pelorus Jack terus membantu kapal. Namun menurut cerita rakyat, dia tidak lagi membantu kapal SS Penguin yang karam di Selat Cook pada tahun 1909.

Menyusul insiden penembakan tersebut, sebuah undang-undang diusulkan untuk melindungi Pelorus Jack. Ia dilindungi oleh Ketertiban Dewan di bawah Undang-Undang Perikanan Laut pada tanggal 26 September 1904. Pelorus Jack tetap dilindungi oleh undang-undang tersebut sampai dia menghilang pada tahun 1912. Diyakini bahwa lumba - lumba ini adalah makhluk laut pertama yang dilindungi oleh undang-undang.

Ada berbagai rumor yang mengatakan, bahwa ia mati karena ditombak oleh kapal penangkap ikan. Namun, dugaan kuat lainnya menjelaskan bahwa ia mungkin telah mati karena usianya yang tua. Umur rata-rata lumba-lumba Risso berada di rentang 25 hingga 30 tahun, dan saat itu pun Pelorus Jack sudah terlihat dewasa. Selama fase terakhirnya, pergerakan Pelorus Jack menjadi sedikit lebih lambat dan kapal yang mengikutinya juga sering mengurangi kecepatan mereka.

Sumber : Kumparan | Wikipedia

26/07/2023

Di Hari Anak Nasional Kick Andy mengundang beberapa anak berprestasi dan bertalenta luar biasa. Ada Torres pelukis cilik yang melukis dengan 2 tangan secara bersamaan, lalu ada Azalia Salwa Salsabila penyanyi cilik tunanetra yg memiliki suara indah dan Tanaya Sindhu Ganari aktivis anak juga pengurus Forum Anak Nasional yg kerap menyuarakan hak-hak anak. BIAR KECIL TAPI RAWIT
Minggu, 23 Juli 2023 pkl 21.05 wib

22/06/2023

Apa yang terjadi di dalam Partai Buruh? Bagaimana kondisi internal mereka? Apakah benar ini hanya alat elite serikat? Apakah kita bisa berharap para mereka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dalam artikel ini.

28/05/2023

Tidak merasakan apa-apa

Siapa yang tidak akan terpikat dengan kondisi seperti ini, Orang-orang dengan bebasnya membeli barang yg mereka cintai, berlibur ketempat yg mereka ingin kunjungi bahkan membeli hawa nafsu yg sudah tidak terbendung lagi.

Saat-saat ini mereka tidak lagi repot dengan keuangan yang meresahkan pada setiap harinya. Asal rajin bekerja kita tetap akan memiliki banyak uang ditempat ini. Pokoknya disinilah ruang hidup yg serba materialistis.

Apa-apa hanya tentang uang, kadangkala kepala cukup pening dengan semua ini. Saya menganggap kesenangan telah mampu dibeli, yg tidak sanggup untuk ditanggulangi biayanya adalah "perasaan kehilangan dan kerusakan yg sebentar lagi akan datang menghampiri". Mungkin pada saat ini hal itu belum menampakkan sisinya. Mereka masih nyenyak dengan kemudahan hidup yg diperoleh.

Sesaat sempat bertanya dalam pikiran " apakah mereka tidak takut" ? Apakah mereka tidak risau? Atau apakah mereka tidak ada empati dengan manusia yg telah kehilangan rumah?
Tapi ini hanya berhenti di dalam kepalaku. Saya tidak punya nyali untuk mengutarakan pertanyaan ini, sebab orang-orang sudah keenakan dengan kenikmatan hidup yg memudahkan urusan mereka.

26/04/2023

Sebab-sebab akulturasi juga bisa dihasilkan dari kekuatan Modal. Maksudnya adalah investasi jangka panjang tentunya akan menyebabkan mobilisasi pekerja asing masuk dan menetap pada suatu daerah dalam rentetan waktu yg tidak menentu. Hanya saja ini merupakan sekedar peluang akulturasi, sehingga untuk menamakannya sebuah percampuran kebudayaan maka diperlukan sebuah hasil dari perpaduan tersebut. Sehingga pada garis besarnya menyebutkan bahwa "selama TDK ada hasil atau perubahan dalam percampuran dua kebudayaan tersebut, maka dia bukan akulturasi".

DARI MENGGENGGAM  PACUL, TEMBILANG, PARANG, KAPAK, PUKAT HINGGA MENJADI MANUSIA YANG SERBA MENJADI PENGGERAK INDUSTRI.Fe...
24/02/2023

DARI MENGGENGGAM PACUL, TEMBILANG, PARANG, KAPAK, PUKAT HINGGA MENJADI MANUSIA YANG SERBA MENJADI PENGGERAK INDUSTRI.

Februari 01 2023, pukul 04.00 WIT.

Menurutku tidak absah rasanya jika kita hanya sekedar mencatat narasi yang kerap bersumber dari cerita-cerita yang kemungkinan besarnya kita tidak bisa menjamin kredibilitasnya. Untuk menjawab segala bentuk pertanyaan itu saya memberanikan diri keluar dan menjamah semua hal dengan keterbatasanku.Hingga sampailah saya pada kesempatan untuk bercerita banyak hal tentang hiruk-pikuk Manusia saat ini.

Kota Ternate adalah Tanah pertama yang menjadi pijakan saya ketika hendak mengulik kisah-kisah manusia yang resah dengan peradabannya. Namun tujuan utama saya bukan disini. Selanjutnya saya kembali mengambil jalur laut untuk menuju ketempat yang menjadi alasan saya untuk menjajal p**au yang penuh dengan kekayaan ini.

Desa Leleo adalah tempat kedua yang manjadi kunjungan berikutnya. Sampai disana kami disambut oleh gerombolan jasa pengangkut penumpang yang sangat gaduh berebut penumpang untuk menuju ke Kabupaten Weda Tengah. Saya tidak langsung menggubris tawaran mereka. Perjalanan saya sudah memakan waktu tigahari lamanya, pastilah sya sangat kehabisan energi. Saya memesan makanan siap saji di warung terdekat, sambil melihat-lihat menu makanan yg berjejer di atas meja. Saya cukup terkesima dengan pilihan menu makanannya, menurutku telur ikan Tuna itu adalah santapan yang sangat mahal harganya. Namun disini hanya dijual dengan kisaran harga Rp 35.000 saja perporsinya. Tanpa berpikir panjang saya duduk dan langsung melahap embrio ikan tuna ini, berhubung saya sangat s**a dengan makanan yg bersumber dari laut dalam. Oh ya, disini banyak berjejer penjual penjual makanan siap saji juga dengan pedagang kebutuhan lainnya. Mungkin ini merupakan sentral para pengunjung yang akan bertandang ke Weda makanya aktivitas ekonominya cukup ramai.

Sebagai laki-laki yang agak berkepribadian tenang 😂 saya mengambil sebatang rokok dari dalam saku kanan baju. Sambil mengamati aktivitas pelabuhan Desa Leleo yang cukup ramai dengan pendatang. Tidak ketinggalan p**a ditempat ini juga turut hadir para penggalang dana pembangunan masjid. Mereka mengumpulkan uang dengan cara yang unik, para hamba Allah ini menggunakan bakat menyanyi mereka sebagai daya tarik orang-orang untuk melihat atau menyaksikan lalu kemudian memberi sumbangan.

Selang beberapa menit beristirahat kami mencari mobil yang akan menuju Kabupaten Weda, Halmahera Tengah. Pak sopir menanyai tujuan akhir kami, sebab ini akan berpengaruh terhadap harga sewa mobil yang akan kami tumpangi. Sebagai orang baru saya tidak terlalu tertarik untuk mempersoalkan harga atau kos mobilisasi untuk menuju ketempat tujuan, asal kami bisa sampai ke lokasi tujuan dengan selamat itu sudah memberi ketenangan untuk menikmati perjalanan yg cukup melelahkan ini.

Sepanjang jalan menuju Weda saya agak gugup dengan Medannya. Sebagian besar kondisi jalannya berada di atas bukit, sehingga banyak sekali terdapat jurang-jurang terjal yg sangat mengerikan. Untuk meminimalisir ketakutan itu saya memutuskan untuk tidur. Hingga akhirnya saya tidak banyak mengamati proses yang cukup memacu adrenalin ini.

Tepat pukul 16.00 WIT kami sudah tiba dijantung Kabupaten Halmahera Tengah, Weda. Kebetulan salah satu dari anggota memutuskan untuk berhenti disini, sisa kami berdua yang berada didalam mobil.

Singkatnya saya sudah tiba ke titik tujuan, saya langsung menghubungi kolega disini di Desa Lelilef Weibulen. Saya di hantar ke rumah kos tempat mereka tinggal. Karena capek saya kelelahan dan kembali tertidur.

Waktu Dua Puluh Satu hari sudah cukup banyak memberi saya gambaran tentang orang-orang disini. Berdasarkan informasi awal, dahulu warga Lelilef Weibulen banyak menghabiskan bekerja sebagai Petani dan Nelayan. Mereka juga sangat bergantung dengan hutan. Biasanya Hasil dari pekerjaan ini hanya cukup menghidupi kebutuhan sehari-hari saja. Namun perihal ini sangat sepele bagi mereka ukuran-ukuran struktural tidak berlaku jika diterapkan dilingkungan pedesaan. Menurut mereka Tolok ukur bahagia tidak ditentukan dari banyaknya materi yang seperti dipahami oleh orang-orang industri di perkotaan. Pokoknya yg terpenting adalah kekayaan Nilai lah yg menjadi mobilitas usaha atau kinerja mereka. Warga disini tergolong kedalam petani yg masih terbilang tradisional mereka masih menggunakan alat-alat manual untuk menggarap ladang. Keadaan ini cukup kontras dengan aktivitas Nelayan;Meraka sudah menggunakan mesin sebagai penggerak perahu untuk mencari ikan. Kesejahteraan hidup juga hampir sama dengan petani, mereka enggan bertetekbengek dengan standarisasi struktural yang menurut mereka cukup absurd.

Tahun 2018 adalah saat dimana tatanan kehidupan perlahan mulai berubah. Tahun itu dikenal sebagai masuknya Industri di lingkungan Desa Lelilef Weibulen dan Desa Lelilef Sawai. Seperti sebuah sulap, dengan sekejap lingkungan ini berubah menjadi ramai. Para perantau banyak berdatangan dari berbagai macam daerah di Indonesia. Sebahagian besar ada yg datang untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan dan selebihnya hanya sekedar berdagang berbagai macam kebutuhan manusia.

Kondisi ini tentunya memicu orang-orang lokal untuk merubah arah dan cara hidup mereka. Tentu saja ini disebabkan oleh lahan yang diserut oleh perusahaan, namun ini berawal dari kesepakatan dari hasil musyawarah masyarakat disini. Sehingga hal ini juga merupakan penyebab bergesernya cara memenuhi kebutuhan hidup.

Disatu sisi, kehadiran para pedagang yang berdatangan dari luar komunitas juga turut andil dalam memberikan pengaruh terhadap bergesernya sistem mata pencaharian disini. Setiap sisi jalan raya penuh dengan aktivitas perekonomian yang begitu padat. Harga barang disini cukup mahal, tentunya hal ini merupakan pengaruh dari areal kawasan industri. Perubahan ini sangat masif terjadi, mobilitas manusia yang tinggi membuat keadaan Lelilef semakin ramai akan kunjungan para pekerja.

Perihal ini dengan sendirinya telah mengarahkan orang-orang Sawai dan Weibulen merubah mata pencaharian mereka. Sebagai orang lokal, mereka pasti memiliki kompensasi dari perusahaan. Mungkin dari keuntungan tersebut mereka kemudian menggunakannya sebagai modal untuk membangun usaha-usaha terbarukan. Namun bagi nelayan perihal ini malah tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pendapatan mereka. Berdasarkan fakta lapangan, kehadiran perusahaan malah semakin banyak menjadikan nelayan meraup keuntungan dari penjualan ikan, sebab harga tawarnya akan semakin tinggi. Hanya saja areal penangkapan ikan mungkin akan semakin jauh.

Komunitas yang benar-benar mengalami perubahan adalah para Petani, hal ini tentunya disebabkan oleh lahan mereka sudah beralih menjadi area pertambangan. Sebagian dari mereka mulai beradaptasi dengan aktivitas ekonomi yang berkebaruan. ekonomi mereka telah bertumpu pada aktivitas penyedia jasa angkutan, usaha kos-kosan, makanan saji dan banyak lagi aktivitas ekonomi yang telah mereka lakoni.

Di awal-awal saya sempat menyebutkan bahwa orang-orang Sawai dan Weibulen tidak mengenal akan adanya standar kehidupan yg sangat struktural. Namun saat ini konsepsi itu telah berubah. Manifestasi dari keberhasilan ekonomi telah dispesifikan kedalam konsep yang begitu sempit, yakni keuntungan. Perihal ini telah membuat konsep kebudayaan orang-orang Lelilef berubah. Cara mereka memandang hidup sudah semakin dekat ke arah yang cukup kapital.

Selain merubah mata pencaharian, orang-orang lokal juga banyak bekerja sebagai karyawan perusahan. Selang lima tahun berlangsung masyarakat disini telah benar-benar menjadi manusia penggerak industri. Aktivitas komunal sudah semakin jarang kita temukan disini.

Manusia memang mahluk yang sangat dinamis. Kadangkala hanya perlu membutuhkan satu pemicu kuat mereka akan langsung berubah. Suasana kehidupan ekonomi sudah sangat maju, perputaran uang begitu tinggi. Orang-orang Sawai dan Waibulan telah menjadi masyarakat penggerak Industri. Mereka tidak lagi menggenggam kapak, parang, tembilang dan alat-alat sederhana lainnya.

Sayapun berfikir, mungkinkah ini merupakan Revolusi industri yang dimaksudkan oleh pemerintah Selama ini? Tapi sudahlah ini bukan masalah bagiku. Saya hanya sedikit tercengang melihat pembangunan disini. Dahulu banyak orang menyebut bahwa Lelilef adalah pelosok yg sangat jauh dari keramaian namun sekarang semua telah berubah, tempat ini telah menjadi Kota Industri yang hadir di Tengah Hutan.

Address

Jalan Martandu
Baubau

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Etnografi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share