07/08/2026
Nama Tijan mungkin belum begitu dikenal oleh banyak warga Kota Bogor. Namun, bagi masyarakat Cimanggu, nama ini bukanlah nama biasa.
Namanya begitu dikenal hingga kemudian diabadikan menjadi nama sebuah perkampungan: Gang Pahlawan Tijan, di wilayah Kedung Waringin, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Tijan atau Tidjan dalam ejaan lama, lahir dari keluarga terpandang di Cimanggu. Ayahnya bernama Haji Syairin, sedangkan ibunya Hj. Khodijah. Keluarganya tinggal di sebuah rumah yang cukup luas di kawasan Cimanggu, yang pada masa itu masih termasuk wilayah Kedung Halang, Kabupaten Bogor, sebelum terjadi pemekaran wilayah Kota Bogor.
Sejak kecil, Tijan dikenal sebagai anak yang pemberani. Ketika anak-anak seusianya sibuk bermain, Tijan justru sudah ikut membantu perjuangan.
Ia menjadi mata-mata bagi laskar rakyat pimpinan Syahroni, mengamati pergerakan musuh dan memberikan informasi kepada para pejuang.
Menginjak usia muda, keberaniannya semakin besar. Tijan bergabung dengan laskar rakyat dan ikut mengangkat senjata melawan Belanda.
Salah satu aksinya yang terkenal adalah mencuri senjata dari pos-pos penjagaan Belanda. Senjata-senjata yang hilang itu membuat tentara Belanda melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk mencarinya.
Kebenciannya terhadap penjajahan semakin kuat setelah mendengar tragedi Rawagede, Karawang, pada akhir 1947. Dalam peristiwa tersebut, ratusan rakyat menjadi korban pembantaian oleh pasukan Belanda.
Namun, perjuangan Tijan harus berakhir ketika ia masih sangat muda.
Pada 18 September 1948, di daerah Gunung Putri, pasukan yang diikutinya terlibat pertempuran dengan tentara Belanda. Beberapa peluru bersarang di tubuh Tijan.
Ia gugur sebagai pejuang dalam usia muda.
Kabar kematiannya tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Terlebih, Tijan sebelumnya telah menyampaikan keinginannya untuk segera meminang kekasihnya.
Namun takdir berkata lain.
Jasad Tijan kemudian dibawa oleh rekan-rekan seperjuangannya kembali ke Cimanggu. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga, tidak jauh dari rumah tempat ia dibesarkan.
Untuk mengenang keberanian dan pengorbanannya, nama Tijan kemudian diabadikan menjadi Gang Pahlawan Tijan.
Pada tahun 2007, Tijan juga diakui sebagai veteran pejuang oleh Pemerintah Kota Bogor.
๐ฎ๐ฉ Tijan mungkin bukan nama yang tercatat besar dalam buku-buku sejarah nasional. Tetapi bagi Cimanggu dan Bogor, ia adalah bagian dari sejarah perjuangan yang tidak seharusnya dilupakan.
Karena kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan oleh tokoh-tokoh besar yang namanya kita kenal.
Ada p**a pemuda-pemuda seperti Tijan, yang berjuang dalam diam, mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, dan akhirnya gugur di usia muda.
Namanya mungkin sederhana. Tetapi pengorbanannya tidak.
Foto adalah ilustrasi