06/09/2026
1. 🌋 GUNUNG ANAK KRAKATAU KEMBALI MELETUS
Erupsi Menerus Anak Krakatau, Terdengar Suara Gemuruh
Selat Sunda — 5 September 2026
Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Badan Geologi melaporkan erupsi disertai suara gemuruh dan semburan berwarna merah menyala yang menyerupai lava fountain (air mancur lava).
Aktivitas vulkanik Anak Krakatau telah berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Rangkaian erupsi tipe Strombolian sebelumnya menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Geology Portal +1
Erupsi terbaru juga berdampak pada wilayah sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik dilaporkan mencapai kawasan pesisir Banten, sementara penyebaran abu menyebabkan gangguan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. �
Reuters +1
Fakta penting:
📅 Erupsi menerus: 5 September 2026
⏰ Mulai: 23.07 WIB
🌋 Status: Level III / Siaga
🔥 Fenomena: lava fountain dan lontaran material vulkanik
⚠️ Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi PVMBG/Badan Geologi.
Sumber: Badan Geologi Kementerian ESDM, Reuters, AP News.
Laporan resmi Badan Geologi tentang erupsi Anak Krakatau
2. 💥 DENTUMAN KERAS MENGGEGERKAN BANDUNG
Dentuman Terdengar di Bandung Raya, Bukan Terbukti Berasal dari Sesar
Bandung — 5 September 2026
Warga Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat melaporkan mendengar suara dentuman berulang pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026. Fenomena tersebut bahkan dilaporkan membuat kaca dan pintu rumah bergetar.
Namun, berdasarkan pemeriksaan BMKG Stasiun Geofisika Bandung, tidak ditemukan aktivitas gempa bumi di Bandung Raya pada saat dentuman terjadi. BMKG juga memeriksa aktivitas petir, kondisi cuaca, atmosfer, serta medan magnet bumi. �
BMKG
⚠️ Bagaimana dengan Sesar Bandung?
Klaim bahwa dentuman tersebut berasal dari Sesar Bandung/Sesar Lembang belum dapat dibenarkan.
BMKG secara tegas menyatakan tidak ada rekaman aktivitas gempa pada Sesar Lembang, Sesar Cimandiri maupun sesar aktif lainnya di wilayah Bandung Raya ketika dentuman dilaporkan. �
ANTARA News Jawa Barat +1
Sementara itu, Badan Geologi/PVMBG sempat mengemukakan dugaan berbeda, yaitu kemungkinan adanya hubungan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau melalui gelombang tekanan atmosfer berfrekuensi sangat rendah. Namun dugaan tersebut masih menjadi bahan kajian dan belum merupakan kesimpulan final.
Kesimpulan kliping:
Dentuman Bandung belum terbukti berasal dari sesar aktif. BMKG justru menyatakan tidak ada aktivitas gempa yang tercatat ketika fenomena tersebut terjadi.
Sumber: BMKG dan ANTARA Jawa Barat.
Siaran resmi BMKG tentang dentuman Bandung Raya�
3. 🌏 JAWA BARAT DIGUNCANG GEMPA M4,3
Gempa M4,3 Guncang Cianjur, Getaran Terasa hingga Bandung
Cianjur, Jawa Barat — 1 September 2026
Kabupaten Cianjur dan wilayah sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik pada Selasa, 1 September 2026 pukul 17.53.11 WIB.
Menurut analisis BMKG, gempa tersebut memiliki:
Parameter
Keterangan
Magnitudo
M4,3
Waktu
17.53.11 WIB
Lokasi episenter
10 km barat daya Kabupaten Cianjur
Koordinat
6,91 LS – 107,10 BT
Kedalaman
4 km
Jenis
Gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif
Gempa dirasakan III–IV MMI di Cianjur. Getaran juga dirasakan di Sukabumi, Cibadak, Nagrak, Warungkondang, Cimahi, Cilaku, hingga Kota Bandung. �
BMKG
Hingga laporan BMKG tersebut diterbitkan, belum terdapat laporan kerusakan bangunan, dan pemantauan sampai pukul 18.15 WIB belum menunjukkan adanya gempa susulan. �
BMKG
Sumber: BMKG.
Laporan resmi BMKG gempa Cianjur M4,3�
📌 KESIMPULAN KLIPING
Tiga fenomena yang menjadi perhatian di Jawa Barat dan sekitarnya
🌋 Anak Krakatau
→ Mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026 dan berstatus Siaga (Level III).
💥 Dentuman Bandung
→ Terdengar pada 4–5 September 2026. Belum terbukti berasal dari Sesar Bandung/Sesar Lembang. BMKG tidak menemukan aktivitas gempa ketika dentuman terjadi.
🌏 Gempa Cianjur
→ Gempa M4,3 pada 1 September 2026 akibat aktivitas sesar aktif, dirasakan hingga Bandung, tetapi tidak dilaporkan menyebabkan kerusakan bangunan.
⚠️ Catatan penting
Ketiga peristiwa tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai satu rangkaian kejadian yang saling menyebabkan. Khusus hubungan antara erupsi Anak Krakatau dan dentuman Bandung, terdapat perbedaan dugaan antara sumber pemberitaan/Badan Geologi dan hasil analisis BMKG sehingga perlu menunggu kajian ilmiah lebih lanjut.