Media Demakijo

Media Demakijo Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Media Demakijo, Photographer, Klatenwa Tengah.

31/08/2025
31/08/2025

πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’

*DATANG, SAKSIKAN & RAMAIKAN!!*

*GELAR BUDAYA DESA DEMAKIJO 2025*

DAY 1 (Kamis, 25 September 2025)
- Buka Teteg
- Doa Bersama

Day 2 (Jum'at, 26 September 2025)
- KIRAB BUDAYA

Day 3 (Sabtu, 27 September 2025)
- Karawitan Marsudi Laras
- Launching Buku "Sejarah Demakijo"
- Pagelaran Wayang Kulit
(Dalang Ki Kusni Kesdik Kesdolamono)

*Streaming Youtube*
https://youtube.com/?si=9kW0WQl2Ji4xD54e







#2025

KLATEN MERINTIH: Perjuangan yang Terkoyak oleh Invasi Senyap Tikus Pithi – Sebuah Kisah Nyata di Balik Ladang yang Menan...
05/07/2025

KLATEN MERINTIH: Perjuangan yang Terkoyak oleh Invasi Senyap Tikus Pithi – Sebuah Kisah Nyata di Balik Ladang yang Menangis

Di bawah rembulan Juli yang seharusnya bersinar terang di Klaten, kini terhampar sebuah kisah duka yang merobek relung jiwa. Ini bukan sekadar angka di lembar laporan pertanian, ini adalah tragedi, sebuah jeritan bisu dari tanah yang kini telah menjadi medan pertempuran, tempat harapan petani terkubur di bawah gerombolan musuh yang tak terpandang.

Bencana di Tengah Hamparan Hijau
Sebuah malapetaka senyap yang jauh lebih mematikan daripada badai atau banjir bandang. Sebanyak 70 hektare lahan persawahan, dari total 76 hektare yang dimiliki Desa Demakijo di Kecamatan Karangnongko, Klaten.
Bayangkanlah, sebuah hamparan hijau yang membentang, siap menyuguhkan rezeki. Namun, dalam hitungan malam, atau bahkan jam, keindahan itu berubah menjadi kehampaan. Ini bukan tikus sawah biasa yang kita kenal, yang besar dan mudah dibasmi. Ini adalah "tikus pithi," jenis tikus kecil yang ukurannya mungkin sejempol tangan, namun jumlahnya seolah tak terbatas. Mereka bergerilya dalam diam, menyerbu dari bawah, memotong batang padi satu per satu. Para petani hanya bisa melihat, terpaku, seolah menyaksikan jantung mereka sendiri dicabik-cabik perlahan. Aroma tanah basah dan tunas padi segar yang biasanya menjadi penenang, kini bercampur dengan bau kekalahan yang pahit.

Para Penjaga Lumbung Pangan
Mereka adalah wajah yang tak pernah lelah bergelut dengan tanah para petani. Mereka adalah tulang punggung negeri ini, penjaga kedaulatan pangan, yang setiap tetes keringatnya adalah investasi untuk perut-perut yang kelaparan. Di Desa Demakijo, puluhan keluarga kini harus menelan pil pahit ini. Kepala Desa Ery Karyatno, seorang pemimpin yang biasanya gagah dan penuh semangat, kini tampak lesu. Suaranya bergetar saat menggambarkan keputusasaan warganya, wajahnya memancarkan beban yang tak terkira. Beliau adalah representasi dari setiap petani di Demakijo yang kini menatap masa depan dengan penuh ketidakpastian.
Ada petani tua dengan kulit keriput legam terbakar matahari, yang sejak kecil hidupnya didedikasikan untuk sawah kita sebut saja Pak Slamet. Padi varietas Rojolele Srinuk adalah kebanggaannya, varietas premium yang selalu menghasilkan beras berkualitas tinggi. Ia sudah membayangkan senyum istri dan cucunya saat lumbung terisi penuh. Namun, harapan itu kini hancur berkeping-keping. "15 hektare Rojolele Srinuk… ludes," bisiknya, suaranya tercekat. Angka itu bukan hanya kerugian lahan, melainkan juga kerugian tradisi, kerugian identitas, dan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup desa yang terkenal dengan padinya. Setiap bulir padi yang hilang adalah janji yang tak bisa ditepati kepada anak cucu.
Kemudian ada seorang janda yang menghidupi dua anaknya hanya dari hasil sepetak sawah kita sebut saja Ibu Irah. Ia telah berinvestasi sekuat tenaga, meminjam sana-sini untuk modal tanam kedua. Senyumnya selalu merekah saat melihat tunas padi mulai meninggi. Tapi kini, senyum itu sirna, digantikan linangan air mata yang membasahi pipinya yang keriput. "Bagaimana ini, Nak? Bagaimana anak-anak saya bisa sekolah nanti?" tanyanya, suaranya lirih bagai angin yang merintih di pematang sawah. Mereka, para petani Demakijo, adalah wajah-wajah yang paling terpukul, merasakan langsung hantaman kejam alam.

Jantung Pertanian Jawa
Tragedi ini bergulir di jantung Pulau Jawa, di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sebuah daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama. Desa Demakijo, dengan hamparan sawah hijau yang membentang luas, menjadi titik nol dari bencana ini.
Lebih spesifik lagi, area terdampak paling parah berada di selatan jalan tol, sebuah batas geografis yang ironisnya menjadi jalur cepat bagi invasi hama ini. Sebagian lahan di utara jalan tol, tepat di sisi timur desa, juga tak luput dari serangan. Mengapa daerah ini? Diduga kuat, gerombolan tikus-tikus pithi ini datang bagai pasukan gelap yang tak terlihat, bergerak dari wilayah timur Klaten. Mereka mungkin bersembunyi di semak-semak, di parit-parit irigasi yang luput dari pengamatan, menunggu saat yang tepat untuk menyerbu. Tanah yang subur, air yang melimpah, dan padi yang montok, semuanya menjadi daya tarik tak tertahankan bagi pasukan penghancur ini. Setiap petak sawah kini adalah saksi bisu dari perjuangan yang tak berujung, dari harapan yang perlahan-lahan pupus.

Pukulan Telak di Saat Harapan Memuncak
Serangan hama ini sebenarnya sudah membayangi sejak musim tanam pertama, sekitar Maret 2025. Kala itu, hanya beberapa titik sawah yang menunjukkan gejala serangan, dan para petani masih bisa bernapas lega karena hasil panen di sebagian besar lahan masih tergolong bagus. Ada optimisme yang membuncah, harapan bahwa musim kedua akan lebih baik, lebih melimpah.
Namun, harapan itu kini berubah menjadi ilusi. Puncaknya, klimaks kesedihan ini, terjadi pada musim tanam kedua tahun ini. Ini adalah waktu kritis, momen di mana padi sudah berbuah, bulir mulai menguning, hanya tinggal menghitung hari untuk dipanen. Di sinilah tikus pithi menunjukkan keganasannya yang sesungguhnya. Mereka menyerbu di saat petani paling tidak menduganya, menghancurkan hasil jerih payah selama berbulan-bulan hanya dalam waktu singkat. Bayangkan, tinggal sedikit lagi panen, tinggal sedikit lagi mimpi terwujud, namun segalanya ambruk dalam sekejap mata. Pukulan telak ini datang di saat harapan berada di puncaknya, menjadikan luka ini terasa jauh lebih dalam, lebih menyakitkan.

Kegagalan dalam Melawan Musuh yang Cerdik
Karena ini bukan sekadar serangan tikus biasa. Ini adalah invasi oleh "tikus pithi," jenis tikus kecil yang, seperti diungkapkan Kepala Desa Ery, "agak beda." Kecil-kecil cabe rawit, mungkin begitulah perumpamaannya. Jumlah mereka tak terkira, strategi mereka licik. Mereka bergerak dalam formasi gerombolan, menggerogoti setiap batang padi hingga ludes tak bersisa. Mereka bukan hanya lapar; mereka seolah datang dengan misi penghancuran.
Penyebab lain mengapa ini menjadi bencana besar adalah kegagalan semua upaya mitigasi yang telah dilakukan. Para petani dan aparat desa tidak tinggal diam. Mereka telah berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten. Bantuan pun datang: obat-obatan anti-tikus dengan bau khas, racun tikus yang disebar di pematang. Namun, alih-alih menghilang, tikus ini justru semakin merajalela, seolah mereka telah membangun imunitas, atau bahkan mengolok-olok segala daya upaya manusia.
Metode "gropyokan", sebuah tradisi pembasmian massal tikus yang biasanya efektif, tidak bisa diterapkan secara menyeluruh. Alasannya sederhana, namun krusial jadwal tanam para petani di desa itu tidak serentak. Akibatnya, jika satu petak sawah digropyok, hama tikus akan dengan cerdiknya berpindah ke petak lain yang padinya masih segar, membuat upaya ini sia-sia dan justru menyebarkan masalah. Usaha lain seperti membersihkan pematang sawah pun dilakukan, dengan harapan memutus jalur persembunyian tikus. Bahkan, cara tradisional yang kadang dianggap magis pun dicoba, menggunakan gedebok (batang) pisang dan rambut untuk mengusir mereka. Namun, semua itu nihil hasil. Tikus-tikus pithi ini seolah kebal, tak terpengaruh, melanjutkan pesta pora di atas penderitaan petani.
Kerugian yang ditanggung bukan hanya soal hasil panen. Secara finansial, dampaknya menghancurkan. Setiap satu patok lahan (sekitar 2.200 meter persegi) yang biasanya menghasilkan Rp 13-15 juta kini menghasilkan nol. Sementara modal awal untuk menanam dan merawat sudah mencapai sekitar Rp 3 jutaan. Ini berarti setiap satu patok lahan yang ludes, petani menanggung kerugian bersih sekitar Rp 10 jutaan. Angka ini mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, tapi bagi petani, itu adalah seluruh tabungan, seluruh pinjaman, seluruh harapan yang kini tinggal lilitan utang.

Kepasrahan di Tengah Ketidakberdayaan
Sebuah kata yang mengerikan namun jujur. Kepala Desa Ery Karyatno, dengan nada yang penuh keputusasaan, mengungkapkan bahwa ia dan para petani kini kebingungan, tak tahu harus berbuat apa lagi. "Obat sudah saya carikan tapi ternyata tidak sesederhana itu," pungkasnya. Pernyataan ini bukan hanya menunjukkan batas kemampuan manusia, melainkan juga kekalahan di hadapan sebuah musuh yang tak terlihat namun begitu mematikan.
Kini, hamparan hijau di Demakijo telah berubah menjadi hamparan duka. Petani hanya bisa menatap sawah mereka yang gundul, memikirkan bagaimana menghidupi keluarga di tengah kegagalan panen yang begitu parah. Mereka adalah wajah yang kini menanggung beban berat, menguji batas kesabaran dan ketahanan mereka.
Kisah ini, yang bergulir di jantung Klaten, adalah sebuah pengingat yang menyakitkan. Betapa rapuhnya ketahanan pangan kita jika alam mulai menunjukkan sisi paling kejamnya. Ini adalah panggilan bagi kita semua, untuk tidak hanya melihat angka kerugian, tetapi juga merasakan jeritan hati para petani. Mereka adalah garda terdepan penopang hidup kita, dan duka mereka, adalah duka seluruh bangsa. Semoga ada secercah harapan, sebuah solusi, yang mampu mengangkat kembali martabat dan senyum di wajah petani Desa Demakijo. Karena di balik kepasrahan itu, saya yakin, semangat untuk menanam dan berjuang tak akan pernah padam, selama masih ada harapan untuk esok yang lebih baik.

Slestaw, 05/07/2025. KabarKlaten Kementerian Pertanian Republik Indonesia

09/12/2024
28/09/2024

Katar Timun Mas Desa Demakijo

Address

Klatenwa Tengah

Opening Hours

09:00 - 17:00

Telephone

+6288221352585

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Media Demakijo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category