RA Vadin

RA Vadin Pewarta foto, penggiat fotografi, dan ayah tiga anak laki-laki. Mencoba berbagi, sejauh mata memanda

.Sungguh garing..☺️
06/06/2026

.
Sungguh garing..☺️

. Pak Presiden dan para menteri pernah memasak mi instan?Seberapa sering?
04/06/2026

.
Pak Presiden dan para menteri pernah memasak mi instan?
Seberapa sering?

.ORANG DESA TIDAK PAKAI DOLLAR. MEREKA PAKAI DAUN PISANG DAN JATI UNTUK MENJALANI HARI.
28/05/2026

.
ORANG DESA TIDAK PAKAI DOLLAR. MEREKA PAKAI DAUN PISANG DAN JATI UNTUK MENJALANI HARI.

. Jenderal Sudirman mencerminkan nilai nasionalisme, keberanian, disiplin, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan kem...
27/05/2026

.
Jenderal Sudirman mencerminkan nilai nasionalisme, keberanian, disiplin, dan pantang menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Meski sedang sakit, ia tetap memimpin perjuangan dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan. Sikap sederhana, rendah hati, serta kecintaannya kepada rakyat menjadikannya teladan bagi bangsa Indonesia.

Jumpa foto beliau di warung mi ayam. Sosok pahlawan berusaha dipajang, walau ala kadarnya. Tidak tampil besar dan dengan pigura mewah menjadi latar saat pidato yang dikhianati kemudian dalam praktik keseharian.

Akhirnya hanya jadi sekadar pajangan, dekorasi, bukan teladan bagi mereka yang mengobral penghargaan dan gelar pahlawan.

.LEBARAN HAJIPerjalanan mudik kali ini, berdua saja dengan si bungsu. Kakaknya memilih menemani Ibunya yang tak bisa "bo...
27/05/2026

.
LEBARAN HAJI

Perjalanan mudik kali ini, berdua saja dengan si bungsu. Kakaknya memilih menemani Ibunya yang tak bisa "bolos" di Jumat yang HarPitNas.

Bercerita beragam hal. Juga tentang Merapi dan Merbabu yang nampak di kejauhan. Dalam budaya Jawa, bersama gunung Lawu, ketiganya membentuk benteng spiritual yang sarat akan mitos kosmis.

Termasuk kisah bahwa ayahnya pernah mendaki ketiganya sampai ke puncak, semasa SMA. Berikut beberapa cerita saat lewat sekolah itu: soal bolos, baca komik, dan kisah merantau.

Saat kau lebih dewasa akan ayah ceritakan roman kami yang berbuah kamu.😊

.ANTISetidaknya berarti penolakan. Bisa juga merupakan bentuk perlawanan kecil terhadap keadaan yang terasa makin absurd...
23/05/2026

.
ANTI

Setidaknya berarti penolakan. Bisa juga merupakan bentuk perlawanan kecil terhadap keadaan yang terasa makin absurd. “Anti” lahir ketika orang sadar ada jarak antara slogan dan kenyataan. Saat rakyat diminta hidup hemat, mau tak mau, mulai anti terhadap pemborosan yang dipoles jadi pencitraan. Bukan berarti membenci segalanya, melainkan refleks waras orang biasa yang capek melihat ironi dipertontonkan tiap hari.

“Anti” akhirnya menjadi humor bertahan hidup, saat TV menyiarkan kunjungan pejabat negara yang bermewah-mewah. Pidato menteri tentang penghematan terdengar seperti iklan obat kuat: banyak slogan, sedikit bukti. Hanya propaganda belaka.

Kacamata baca yang patah saat terbawa tidur ini tak semudah dilem biru (lempar beli yang baru). Sedikit otak-atik dengan tali bekas kantong belanja kertas jadilah masih terpakai. Lumayan memperpanjang cerita. Turut merayakan arahan efisiensi oleh pemerintah yang sepertinya matian-matian demi MBG yang “beracun” itu.

Hidup Jokowi..eh, hidup hutang negara!! Pejabat korup, rakyat sengsara!!

.LITERASIBukan cuma soal bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami dunia, mempertanyakan informasi, d...
17/05/2026

.
LITERASI

Bukan cuma soal bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami dunia, mempertanyakan informasi, dan berpikir kritis terhadap kenyataan di sekitar kita.

Karena itu, literasi selalu punya hubungan dengan kekuasaan.

Dalam sejarah Indonesia, pernah ada masa ketika buku-buku tertentu dilarang, disita, bahkan dianggap berbahaya hanya karena memuat gagasan yang berbeda. Orang dibuat takut membaca, takut berdiskusi, dan takut bertanya. Hari ini, kita juga masih melihat bagaimana film tertentu sulit diputar terbuka karena dianggap sensitif atau mengganggu “ketertiban”.

Kenapa karya, buku, atau film bisa begitu ditakuti?

Karena literasi melahirkan kesadaran. Dan kesadaran membuat orang mulai berpikir.

Masyarakat yang literat tidak mudah dibohongi, dipecah, atau diarahkan begitu saja. Mereka belajar melihat lebih dari satu sudut pandang, memahami sejarah, dan mempertanyakan narasi yang diterima mentah-mentah.

Membaca bukan aktivitas netral. Menonton dan berdiskusi juga bukan hal sepele. Semua itu adalah bagian dari usaha memahami dunia dengan lebih jernih.

Maka menjaga literasi berarti menjaga kebebasan berpikir.

SELAMAT HARI BUKU NASIONAL!

* "Bumi Manusia" yang hancur akibat banjir di Bekasi adalah hibah dari Mbak Silvia "Evi" Galikano. Sebelahnya hasil berburu di lapak timbang bekas langganan. Dulu buku ini termasuk yang dilarang oleh pemerintah Orde Baru, kini setelah relatif bebas mungkin malah jarang yang minat membacanya.





.MAGRIB DI CISARUADi lereng Cisaruamagrib turun pelanseperti ibu yang menutup jendelaagar dingin tak masuk terlalu jauh....
09/05/2026

.
MAGRIB DI CISARUA

Di lereng Cisarua
magrib turun pelan
seperti ibu yang menutup jendela
agar dingin tak masuk terlalu jauh.

Kabut menggantung
di antara pucuk teh dan suara motor pulang,
azan mengalir dari surau kecil
melewati atap seng yang basah oleh sore.

Anak-anak berhenti bermain,
langit berubah ungu tembaga,
dan burung-burung terakhir
mencoret senja dengan sayap yang letih.

Di warung pinggir jalan
uap kopi naik bersama doa-doa sederhana,
sementara lampu mulai menyala satu-satu
seperti bintang yang ditanam manusia.

Magrib di Cisarua
tak pernah benar-benar sunyi
ia penuh suara kecil:
sendok beradu kopi,
langkah sandal menuju masjid,
dan hati yang perlahan pulang
setelah seharian tersesat di ujung jalan.

27/04/2026

.
"Sampai Titik Terakhirmu"

Saat nonton film itu jadi teringat perjuangan kakak sulung berjuang melawan

Mencatatnya dalam lirik lagu, untuk terus mengenang keteguhan hatinya dalam berupaya pulih. Sekaligus berhikmah atas kepulangannya.

Foto ini adalah momen terakhir kami terekan bersama bertiga pada 2015. Tiga tahun sebelum kepulangannya.

Al fatihah. 🤲🏼

14/04/2026

.
TAHUKAH KAMU(?)

Di masa Orde Baru, era pemerintahan Presiden Soeharto, terjadi pelarangan terhadap lagu "cengeng. Jadi saat itu tak hanya (beberapa) buku yang dilarang.

Perintah ini ditegaskan Menteri Penerangan Harmoko pada perayaan HUT TVRI ke-26, 24 Agustus 1988.

Alasannya pemerintah mengkhawatirkan lagu sedih membuat mental bangsa menjadi lemah/cengeng dan tidak produktif.

Lagu yang terdampak selain "Hati yang Luka", juga "Gelas-Gelas Kaca" dari Nia Daniaty dan karya-karya pop melankolis lainnya.

Barangkali lagu yang sedang terdengaf ini juga akan dilarang. Mungkin kecerdasan buatan (AI) yang ikut membantu membuat musik dan ilustrasinya turut "ditangkap".

Padahal AI jadi hal seru saat dibawa ke suasana personal yang manusiawi. Termasuk bercengeng ria. 😊

Address

Tanjung Barat
Pasar Minggu

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RA Vadin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to RA Vadin:

Share

Category