01/02/2026
Nisan di Tengah Barisan Sawit
Malaysia sedang berada di puncak musim panas, namun bagi Boy, hawa dingin justru merambat dari hatinya yang kian hampa. Lelaki itu berdiri tanpa baju, membiarkan punggungnya yang legam dipanggang matahari. Kulitnya sudah lama kehilangan rasa sakit akibat terbakar, tapi tidak dengan batinnya. Di tangannya, sebilah egrek besi terasa seperti beban seluruh dunia.
Setiap kali ia melihat tandan sawit merah yang jatuh ke tanah, ia melihat wajah anaknya yang masih berusia tiga tahun di kampung. "Satu tandan lagi, untuk susu si Kecil," bisiknya dengan suara parau yang sudah lama tidak mencicipi air jernih. "Satu tandan lagi, untuk bayar hutang puskesmas Ibu."
Boy bukan tidak ingin pulang. Dia sangat ingin. Setiap malam di barak yang berbau apek, ia hanya bisa menatap foto kusam di dompetnya—satu-satunya harta yang ia punya. Di foto itu, istrinya tersenyum malu-malu sambil menggendong anak mereka. Tapi kenyataan di negeri jiran ini sangat pahit. Gaji yang dijanjikan besar ternyata habis dipotong sana-sini. Seringkali Boy hanya makan nasi putih dengan garam agar bisa mengirimkan uang lebih banyak ke kampung.
Suatu sore, saat ia sedang memaksakan tenaganya yang tersisa untuk menjatuhkan buah terakhir, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel tuanya yang layarnya sudah retak seribu.
"Mas Boy, pulanglah... Anak kita sering memanggil namamu sebelum tidur. Dia bilang dia tidak butuh mainan atau sepatu baru, dia cuma mau Bapaknya."
Air mata Boy jatuh, membasahi tanah kering ladang sawit itu. Ia meremas ponselnya. Bagaimana ia bisa pulang? Ongkos pesawat setara dengan tiga bulan kerjanya. Jika ia pulang sekarang, ia hanya akan membawa tangan kosong dan kemiskinan yang lebih parah bagi keluarganya.
Tragedi itu terjadi tepat saat matahari mulai tenggelam. Karena kurang konsentrasi akibat menahan lapar dan rindu yang mencekik, pelepah sawit yang penuh duri tajam jatuh tepat mengenai punggungnya yang tanpa perlindungan. Boy ambruk. Darah segar merembes ke tanah, bercampur dengan debu ladang yang asing baginya.
Di detik-detik saat kesadarannya mulai memudar, ia tidak merasakan sakit dari lukanya. Ia justru merasa melihat anaknya berlari ke arahnya, membukakan pintu rumah mereka di desa. Ia merasa mencium aroma masakan istrinya.
"Tunggu Bapak, Nak... sebentar lagi Bapak sampai," racunya dalam igauan terakhir.
Boy pergi dalam sunyi di bawah rimbunnya pohon sawit Malaysia. Tidak ada peti mati mewah, tidak ada tangisan keluarga di sampingnya. Ia mati sebagai seorang pahlawan bagi keluarganya, namun hanya dianggap sebagai angka statistik buruh migran yang hilang bagi dunia. Ia pergi tanpa pernah sempat membelikan sepatu baru untuk anaknya, meninggalkan sebuah surat di saku celananya yang belum sempat terki , bertuliskan: "Sabar ya, sedikit lagi Bapak pulang."
Lanjutan di part II