Tirza Roring Whitehurst

Tirza Roring Whitehurst From CA corporate, OR country living, & SD wellness to full-time RVing. Life brought me to a remote jungle in Indonesia.

Now living alone here, I have found that while paths change, יְהֹוָה אֵל שַׁדַּי YHWH El Shadday has never left nor forsaken me.

In our remote jungle property here in North Sulawesi, inside the open-air shelter of our bamboo sabua, a quiet miracle h...
09/04/2026

In our remote jungle property here in North Sulawesi, inside the open-air shelter of our bamboo sabua, a quiet miracle has been unfolding over the last two weeks. I placed two simple, organic sweet potatoes into glass vases. Today, they are growing so beautifully—one sending delicate, emerald vines crawling eagerly upward toward a bamboo basket, and the other gently spilling its life over the heavy, ancient curves of a stone mortar.

I initially intended to transplant them into the garden, but day after day, I find myself leaving them right where they are. Why? Because looking at them brings a profound sense of therapeutic calm, healing, and delight deep down inside my heart and mind.

No matter where we are in the world—whether surrounded by a wild forest or looking out a city window—nature has a beautiful way of grounding us. In a world that constantly demands we focus on the next step or the final harvest, these quiet vines remind us of the beauty of simply "being." They are living art, bridging the structured shelter of a home with the untamed spirit of the natural world.

They teach us that growth doesn't need to be rushed to be purposeful, and that healing often begins when we slow down enough to appreciate the grace right in front of us. You don't need a sprawling garden to experience this; sometimes, a single leaf on a windowsill is enough to bring the outside world in.

Where can you invite a little more patience, presence, and natural beauty into your life today? 👇🌱

******* INDONESIAN *******

Di properti hutan terpencil kami di Sulawesi Utara, di dalam sabua bambu kami yang berkonsep terbuka, sebuah keajaiban kecil yang sunyi telah bersemi selama dua minggu terakhir ini. Saya menempatkan dua ubi jalar organik yang sederhana ke dalam vas kaca. Hari ini, mereka tumbuh dengan sangat indah—yang satu merambatkan sulur-sulur zamrudnya yang halus ke atas menuju keranjang bambu dengan begitu bersemangat, sementara yang lain dengan lembut mengalirkan kehidupannya melintasi lekukan sebuah cobek batu yang berat.

Awalnya saya berniat memindahkan mereka ke kebun, tetapi hari demi hari, saya mendapati diri saya membiarkan mereka tetap berada di tempatnya. Mengapa? Karena memandangi mereka menghadirkan rasa tenang terapeutik, kesembuhan, dan kenyamanan yang begitu mendalam di lubuk hati dan pikiran saya.

Di mana pun kita berada di dunia ini—apakah dikelilingi oleh hutan belantara atau memandang keluar dari jendela kota—alam selalu punya cara yang indah untuk menenangkan kita. Di dunia yang terus-menerus menuntut kita untuk fokus pada langkah berikutnya, sulur-sulur yang sunyi ini mengingatkan kita akan indahnya menikmati momen saat ini. Mereka adalah karya seni yang hidup, menjembatani tempat bernaung dari struktur sebuah rumah dengan jiwa dari alam liar.

Mereka mengajarkan kita bahwa pertumbuhan tidak perlu terburu-buru untuk menjadi bermakna, dan bahwa pemulihan sering kali dimulai ketika kita cukup memperlambat ritme hidup untuk menghargai anugerah yang ada tepat di depan mata kita. Anda tidak memerlukan kebun yang luas untuk merasakan hal ini; terkadang, sehelai daun di ambang jendela sudah cukup untuk membawa kedamaian alam ke dalam rumah.

Di bagian mana dalam hidupmu hari ini yang kamu bisa menghadirkan sedikit lebih banyak kesabaran, kehadiran yang utuh, dan keindahan alam? 👇🌱












📸 © 2026 Tirza Roring Whitehurst. All Rights Reserved 🌿✨

Progress update from our remote jungle sanctuary in North Sulawesi! 🌿✨ Yesterday, September 3, 2026 I looked out at the ...
09/04/2026

Progress update from our remote jungle sanctuary in North Sulawesi! 🌿✨

Yesterday, September 3, 2026 I looked out at the new structure expanding our bamboo sabua. This continuous build acts as a natural progression, adding seamlessly onto the original structure we started back in March 2026. With my brother-in-law’s plate completely full right now, Janrie and his assistants, Yap and Paultje, have stepped up, taking over the reins to bring this architectural vision to life.

Architecturally, the layout follows a deliberate, harmonious alignment with our surroundings. When facing east toward the majestic Tatawiran and Lokon mountains, the new structure stands gracefully next to the old one. But when looking north, it sits directly in front of the March build—positioning us perfectly to catch a front-row seat to the rolling ocean breeze. Once completed, the two spaces will be fluidly interconnected.

Janrie has already cut and prepped the bamboo for the walls. Following our original concept, the perimeter walls will stand only 1 meter (about 3 feet) high all around. Above this solid base, the remaining space will consist entirely of panoramic openings wrapped safely in wire fencing and mosquito netting. This configuration provides absolute structural protection without imposing visual barriers, allowing the cool, clean ocean and mountain breeze to flow freely day and night—a perfect, natural relief from the tropical heat.

There is a profound psychological, logical, and spiritual medicine engineered into this design. When we strip away the heavy, suffocating concrete walls dictated by modern architectural norms, our minds undergo a profound cognitive shift. Psychologically, a space defined by low walls and vast openness satisfies a dual human necessity: the logical need for physical safety and the spiritual craving for absolute freedom. It offers a protective, grounded embrace below, while the wide-open expanse above allows the soul to expand. In this space, artificial anxieties wash away, replaced by a restored sense of sovereign autonomy and deep peace.

On a deeper level, this architectural openness does something miraculous to our body, mind, and spirit. It strips away the partitions of worldly isolation and connects us directly to our Creator, יהוה אל שדי—YHWH El Shadday—the self-existing, eternal God Almighty. He is רוּחַ הַקּוֹדֶשׁ—Ruach HaKodesh—the Holy Wind, the Current of Air, the vast Region of the Sky, and the very Breath of Life that animates our existence.

Living here means living transparently inside His Infinite Mind, recognized as the singular, ultimate Rational Being. As the wind moves unhindered through these open walls, it reminds us that true freedom is not the absence of boundaries, but the presence of divine space to breathe, exist, and be sustained by the Life itself. We are swimming in the literal atmosphere of the Divine.

******* INDONESIAN *******

Kabar terbaru tentang kemajuan dari tempat perlindungan hutan terpencil kami di Sulawesi Utara 🌿✨

Kemarin, 3 September 2026, saya memandang ke arah struktur baru yang sedang memperluas sabua bambu kami. Pembangunan berkelanjutan ini bertindak sebagai kelanjutan alami, menyatu tanpa sekat dengan struktur asli yang mulai kami bangun kembali pada Maret 2026. Karena agenda kakak ipar saya benar-benar padat saat ini, Janrie beserta para asistennya, Yap dan Paultje, telah mengambil alih kendali untuk menghidupkan visi arsitektur ini.

Secara arsitektural, tata letaknya mengikuti keselarasan yang disengaja dan harmonis dengan lingkungan sekitar kami. Saat menghadap ke timur menuju pegunungan Tatawiran dan Lokon yang megah, struktur baru ini berdiri dengan anggun di samping struktur lama. Namun saat melihat ke utara, bangunan ini berada tepat di depan bangunan bulan Maret—menempatkan kami pada posisi yang sempurna untuk menikmati embusan angin laut yang menerpa.

Setelah selesai nanti, kedua ruang ini akan saling terhubung. Janrie pun sudah memotong dan mempersiapkan bambu untuk dindingnya. Mengikuti konsep awal kami, dinding perimeter hanya akan berdiri setinggi 1 meter di sekelilingnya. Di atas fondasi kokoh ini, sisa ruang yang ada sepenuhnya berupa bukaan panorama yang dibungkus aman dengan pagar kawat dan kelambu nyamuk. Konfigurasi ini memberikan perlindungan struktural mutlak tanpa membatasi pandangan, membiarkan angin laut dan pegunungan yang sejuk serta bersih mengalir bebas siang dan malam—sebuah kelegaan alami yang sempurna dari panas tropis.

Ada obat psikologis, logis, dan spiritual yang mendalam yang dirancang ke dalam desain ini. Ketika kita menanggalkan dinding beton yang berat dan menyesakkan yang didiktekan oleh norma arsitektur modern, pikiran kita mengalami pergeseran kognitif yang mendalam. Secara psikologis, ruang yang ditentukan oleh dinding rendah dan keterbukaan yang luas memenuhi kebutuhan ganda manusia: kebutuhan logis akan keselamatan fisik dan kerinduan spiritual akan kebebasan mutlak. Desain ini menawarkan dekapan yang melindungi dan membumi di bagian bawah, sementara bentangan luas di atas membiarkan jiwa berkembang. Di ruang ini, kecemasan semu sirna, digantikan oleh rasa otonomi berdaulat yang pulih dan kedamaian yang mendalam.

Pada tingkat yang lebih dalam, keterbukaan arsitektural ini melakukan sesuatu yang ajaib bagi tubuh, pikiran, dan jiwa kita. Ini meruntuhkan sekat-sekat isolasi duniawi dan menghubungkan kita secara langsung dengan Pencipta kita, יהוה אל שדי—YHWH El Shadday—Tuhan Yang Mahakuasa, yang ada dengan sendiri-Nya dan Kekal. Dia adalah רוּחַ הַקּוֹדֶשׁ—Ruach HaKodesh—Angin Kudus, Arus Udara, Wilayah Langit yang luas, dan Nafas Kehidupan itu sendiri yang menggerakkan keberadaan kita.

Hidup di sini berarti hidup secara transparan di dalam Pikiran Tak Terbatas-Nya, satu-satunya Makhluk Rasional yang tertinggi. Saat angin bergerak tanpa rintangan melewati dinding-dinding terbuka ini, ia mengingatkan kita bahwa kebebasan sejati bukanlah ketiadaan batasan, melainkan kehadiran ruang ilahi untuk bernapas, ada, dan ditopang oleh Kehidupan itu sendiri. Kita sedang berenang di atmosfer literal (secara harafiah) dari Sang Pencipta.












📸 © 2026 Tirza Roring Whitehurst. All Rights Reserved 🌿✨

October 23, 2011. Nearly 15 years ago, by the Feather River in Plumas County, Northern California, USA 🇺🇲✨At 40 years ol...
08/30/2026

October 23, 2011. Nearly 15 years ago, by the Feather River in Plumas County, Northern California, USA 🇺🇲✨

At 40 years old, I was balancing my tech career in Irvine, Southern California, with a quiet inner calling. In a world full of noise, I paused for these photos.

A glimpse behind the lens: 🎬

Top: Finding my footing on the rocks of the Feather River, captivated by the rushing currents.

Bottom left: Fully focused, checking the shots.

Bottom right: A quiet moment adjusting my boots, grateful to be immersed in the creative process.

Photography has been my quiet joy since high school in 1989. For decades, I dismissed it as "just a hobby." That changed in 2005 when a colleague encouraged me to enter a contest. Two weeks later, a letter arrived stating my work showed an "artistic vision."

I didn’t truly understand what that meant then. I just felt a profound, unspoken shift deep inside. When they asked to display my capture at an exhibition in Las Vegas, Nevada, it felt as though my soul was finally being given permission to breathe. 🌟

That moment gave me the courage to take a leap of faith. I left the corporate grid for a peaceful country life in Southern Oregon, which later led me to a Wellness Center in South Dakota. Soon, a whole new chapter opened. I joined my husband as a full-time RV traveler. For seven years, we explored America—leaving the traditional desk behind to chase light, landscapes, and a shared creative spirit. 🚐💨

When we align with our true calling, something extraordinary happens. Your mind finds perfect clarity. Your spirit awakens, anchored in a peace that passes understanding. Your body feels lighter, energized by a divine flow. It is a feeling that cannot be put into words, but it radiates through everything you do.

Today, I am deeply humbled that those very captures—born from a quiet leap of faith—are now framed and displayed in medical facilities worldwide through Healing Photo Art (The Foundation for Photo/Art in Hospitals). What began as a personal surrender now offers comfort, healing, and peace to patients facing their darkest hours. 🏥🤍

Every single one of us is intentionally designed by our Creator, יְהֹוָה אֵל שัׁדัּי YHWH El Shadday (the self-existing eternal God Almighty). He did not just give us unique talents; He filled us with a divine wisdom and understanding of heart, placing a piece of His infinite creative spirit inside us. These gifts look different for every soul on this earth. For some, it is the beauty of music, the impact of teaching, the grace of caregiving, or the gift of encouragement and leadership. For me, it flows simultaneously through my photography, baking, cooking, gardening, and fresh floral arrangements.

When you step into and practice your specific gift, you are worshiping. You are inspiring those around you and bringing Heaven's light into a weary world. 🌸🍃🥖🎻📚

Don't ignore the quiet whisper in your heart. Step into your gift. The world is waiting to feel the light only you can bring.

******* INDONESIAN *******

23 Oktober 2011. Hampir 15 tahun yang lalu, di tepi Sungai Feather, Plumas County, California Utara, Amerika Serikat 🇺🇲✨

Di usia 40 tahun, saya menyeimbangkan karier teknologi saya di Irvine, California Selatan, dengan sebuah panggilan jiwa yang sunyi. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, saya berhenti sejenak untuk foto-foto ini.

Sekilas cerita di balik lensa: 🎬

Atas: Menemukan pijakan di atas bebatuan Sungai Feather, terpikat oleh aliran air yang deras dan jernih.

Kiri bawah: Fokus sepenuhnya, memeriksa hasil foto.

Kanan bawah: Keheningan saat merapikan sepatu boots, bersyukur atas kesempatan untuk menyelami proses kreatif.

Fotografi telah menjadi kesenangan tersendiri bagi saya sejak SMA pada tahun 1989. Lama sekali saya hanya menganggapnya sebagai "sekadar hobi". Semua berubah pada tahun 2005 ketika seorang rekan kerja menyemangati saya untuk mengirimkan karya saya ke sebuah kompetisi.
Dua minggu kemudian, saya menerima surat yang menyatakan bahwa karya saya menunjukkan sebuah "visi artistik".

Saat itu, saya bahkan tidak sepenuhnya paham apa artinya. Namun, ada sesuatu yang bergetar hebat di dalam dada, sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika pihak penyelenggara meminta izin untuk memamerkan foto tersebut di Las Vegas, Nevada, rasanya seolah-olah jiwa saya akhirnya diberikan ruang untuk bernapas bebas. 🌟

Momen itulah yang memberi saya keberanian untuk melangkah dengan iman. Saya meninggalkan dunia korporat demi kehidupan pedesaan yang damai di Oregon Selatan, yang kemudian membawa saya bekerja di sebuah Pusat Kesehatan dan Pengobatan Alami (Wellness Center) di South Dakota. Dari sana, babak baru dimulai. Saya mendampingi suami saya hidup sebagai full-time RV traveler. Selama tujuh tahun kami menjelajahi Amerika, meninggalkan meja kerja konvensional untuk mengejar cahaya, lanskap alam, dan menyatukan semangat kreatif kami. 🚐💨

Ketika kita hidup selaras dengan panggilan jiwa yang Tuhan berikan, sesuatu yang luar biasa terjadi. Pikiran kita menjadi jernih. Semangat kita bangkit, berakar pada kedamaian yang melampaui segala akal. Bahkan tubuh fisik pun terasa diperbaharui oleh aliran energi ilahi. Ini adalah sebuah rasa yang tidak dapat didefinisikan oleh bahasa manusia, namun dapat dirasakan dampaknya secara nyata.

Kini, dengan segala kerendahan hati, saya sangat bersyukur karena foto-foto yang lahir dari langkah iman yang sunyi itu kini dibingkai dan dipajang di berbagai fasilitas medis di seluruh dunia melalui Healing Photo Art (The Foundation for Photo/Art in Hospitals). Apa yang berawal dari sebuah hobi, kini membawa kesembuhan, kenyamanan, dan kedamaian bagi para pasien yang sedang berjuang. 🏥🤍

Setiap orang—termasuk Anda dan saya—telah dianugerahi bakat dan talenta yang unik oleh Sang Pencipta, יְהֹוָה אֵל שัׁדัּי YHWH El Shadday (TUHAN Yang Mahakuasa yang kekal dan ada dengan sendiri-Nya). Dia tidak hanya memberikan kita bakat, tetapi juga mengaruniakan hikmat dan pengertian dalam hati (wisdom and understanding of heart), serta menitipkan percikan roh kreatif-Nya di dalam diri kita. Bentuk talenta ini berbeda bagi setiap orang di seluruh dunia. Bagi sebagian orang, ia hadir melalui indahnya musik, panggilan mengajar, ketulusan dalam merawat sesama, ataupun karunia memimpin dan memberi semangat. Bagi saya pribadi, karunia itu mengalir bersamaan melalui fotografi, seni memasak, membuat kue, berkebun, dan merangkai bunga segar. Saat kita mendalami dan mempraktikkan bakat khusus kita, kita sedang memuliakan-Nya. Kita sedang menginspirasi sesama dan membawa cahaya surga ke dalam dunia yang sedang lelah. 🌸🍃🥖🎻📚

Jangan abaikan bisikan halus di dalam hatimu. Melangkahlah dengan iman, asah talentamu, dan jadilah inspirasi. Dunia sedang menunggu untuk merasakan kedamaian yang hanya bisa disalurkan melalui dirimu.










© 2011 SGP Photography, Feather River, Plumas County, Northern California, USA 🇺🇲

Address

Laguna Niguel, CA

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tirza Roring Whitehurst posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share