12/10/2025
Dari sisi tertentu, kita menjadi bodoh, secara sukarela masuk kedalam penjara pintar, menyerahkan kepribadian dan jati diri pada dunia digital yang terbentuk dari angka 0 dan 1, tidak ada kehidupan, perasaan ataupun kehangatan melainkan hanya sampah bahasa yang berserakan di Padang tandus tanpa kesadaran.
Seiring berjalannya waktu kesepian itu semakin bertambah.
Entah sejak kapan, kita rela mengurung diri dalam penjara pintar ini, sebuah dunia yang memang terlihat bersinar dalam layar, namun perlahan memadamkan jiwa.
Kepribadian kita perlahan larut dalam aliran angka 0 dan 1, tanpa sadar kita titipkan harapan pada dunia digital yang tak mengenal pelukan, genggaman tangan, tatapan hangat, dan juga kasih sayang, hanya menyisakan kata kata yang akhirnya tidak lagi memiliki makna, bergulir di padang kosong yang kita sebut internet.
Yang masih membuat kita menjadi manusia adalah hanya kita bisa terluka.
Bertemu, menggenggam tangan, merasakan, menangis dan tertawa bersama, saling memahami satu sama lain dan tetap terhubung.
Ingatlah, kita tumbuh saling menyerupai dan terhubung bukan oleh sinyal, melainkan hati.
Mengapa kita tidak lagi saling berhadapan?
Bukankah kita harus berkomunikasi?
Bukankah kamu juga menyukainya?
Kembalilah, jalan itu masih ada, karena kita adalah manusia.