11/08/2016
Berbagi Ilmu Photography
Hari minggu kemaren saya dan beberapa teman-teman bif pergi ke bandung untuk sesi hunting di sekitar daerah braga dan asia afrika pada pagi hari. Setelah kami selesai foto ada teman kita untuk minta ke satu tempat untuk membeli minuman sambil menunggu mata saya tertuju dengan seseorang yang sedang mengambar sketsa. Hal ini saya alami juga pada saat saya hunting foto di Siong Lim Temple, Singapore. Pada saat saya asyik mengambil foto ada juga orang yang sedang asik mengambar dengan menggunakan kertas gambar dan cat air.
Sebenernya pelukis itu sama seperti photographer yang membedakan yaitu hanya medianya saja. Kita photographer seniman mahal menurut saya, karena peralatan kamera kita sangat mahal di banding dengan si pelukuis yang hanya menggunakan kertas gambar dan cat minyak, plus waktu yang di butuhkan jauh lebih lama. Pelukis membutuhkan waktu 2 jam untuk mengambil satu lukisan sedangkan kita dalam 2 jam sudah dapat mengambil beberapa foto yang baik.
Disini saya melihat pelukis lebih berjuang untuk mendapatkan suatu hasil yang baik di banding kita photographer. Pada saat orang itu melukis saya ajak ngobrol beliau yang menurut saya obrolan itu sangat berarti untuk kita para photographer.
Beliau mengatakan “menggambar sketsa itu sama seperti photo, sama-sama hunting mencari tempat untuk mendapatkan gambar, sama-sama seni, sama-sama melihat komposisi, cahaya terang gelap, perspektif, warna, dan lain-lain”
Adakah kita pada saat hunting memikirkan itu semua? Saya rasa banyak photographer yang melupakannya, umumnya hanya memikirkan iso, diafragma dan shutter plus komposisi di akhir, saya rasa jarang orang yang memikirkan cahaya terang gelap, persepektif dan warna.
Semoga obrolan saya dengan beliau dapat berarti untuk kita semua.
Writing & Photographer
Martinus Chen