Honai Koteka

Honai Koteka Abadikan Moment ��

Bupati Intan Jaya Aner Maisini Soroti Kematian Oto Sani Tigau, Minta Kasus Diusut TuntasBupati Intan Jaya, Aner Maisini,...
02/07/2026

Bupati Intan Jaya Aner Maisini Soroti Kematian Oto Sani Tigau, Minta Kasus Diusut Tuntas

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menyampaikan protes keras terkait kematian warga sipil di Intan Jaya, Papua Tengah, pada 1 Juli 2026. Dalam pernyataannya, Bupati tampak emosional saat menyoroti tindakan aparat keamanan yang ia nilai berlebihan terhadap masyarakat.

Korban yang dimaksud adalah Ev. Oto Sani Tigau, seorang gembala gereja yang ditemukan meninggal di Kampung Mamba. Menurut keterangan keluarga dan warga, korban memiliki sejumlah luka tembak di tubuhnya. Pihak keluarga menduga korban mengalami penyiksaan sebelum meninggal.

Bupati Intan Jaya meminta agar kasus ini diusut secara tuntas, transparan, dan independen. Ia berharap para pihak yang bertanggung jawab dapat diidentifikasi dan diproses sesuai hukum yang berlaku.




Turut berduka cita untuk keluarga almarhum.

Mengenang Tokoh Inspiratif Papua Merdeka Alm Eliezer Awom(JAYAPURA) – Nama almarhum Eliezer Awom menjadi salah satu toko...
19/05/2026

Mengenang Tokoh Inspiratif Papua Merdeka Alm Eliezer Awom

(JAYAPURA) – Nama almarhum Eliezer Awom menjadi salah satu tokoh yang hingga kini masih dikenang dalam sejarah panjang perjuangan politik Papua Barat.

Sosok yang juga dikenal dengan nama Elieser Awom itu dikenal sebagai figur senior dalam gerakan pro-kemerdekaan Papua Barat sekaligus mantan anggota Brigade Mobil (Brimob) Republik Indonesia.

Eliezer Awom lahir di Pulau Numfor, Papua, pada 4 Juli 1948. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menjalani pengabdian sebagai anggota aparat keamanan Indonesia sebelum akhirnya memilih bergabung dalam gerakan perjuangan Papua Barat.

Pada era 1960-an hingga awal 1980-an, Eliezer Awom tercatat sebagai anggota Brimob Indonesia. Ia mengikuti pendidikan kepolisian di Lido, Bogor, Jawa Barat, sebelum menjalankan tugas di Jakarta dan sejumlah wilayah di Papua.

Berkat kemampuan serta kedisiplinannya selama bertugas, Eliezer Awom dipercaya menjadi instruktur menembak di lingkungan kepolisian. Pengalaman militernya kemudian dikenal luas dan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Perubahan besar dalam hidup Eliezer Awom terjadi pada tahun 1984. Ia memutuskan keluar dari institusi keamanan Indonesia dan kemudian bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat/Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM), organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat melalui jalur politik maupun perjuangan bersenjata.

Di dalam organisasi tersebut, Eliezer Awom dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengalaman militer dan strategi lapangan.

Ia dipercaya memimpin pasukan di sejumlah wilayah Papua dan menjadi salah satu figur penting dalam gerakan perlawanan pada masa itu.

Pada tahun 1989, Eliezer Awom ditangkap setelah terlibat dalam konflik bersenjata dengan aparat keamanan Indonesia.

Penangkapannya menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah konflik Papua kala itu. Setelah ditangkap, ia menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun sebagai tahanan politik.
Memasuki era reformasi sekitar tahun 2000, Eliezer Awom dibebaskan bersama sejumlah tahanan politik Papua lainnya. Setelah bebas, ia tetap aktif memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua melalui berbagai organisasi dan jalur diplomasi internasional.

Ia kemudian turut terlibat dalam pembentukan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), organisasi politik yang berupaya membawa isu Papua Barat ke forum internasional. Kehadirannya di organisasi tersebut membuat dirinya dihormati sebagai salah satu tokoh senior perjuangan Papua Barat.

Selain dikenal sebagai pejuang politik, Eliezer Awom juga dipandang sebagai figur yang memberi pengaruh besar bagi generasi muda aktivis Papua.

Pengalaman hidupnya sebagai mantan aparat keamanan sekaligus tokoh perjuangan menjadikannya sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah politik Papua.

Eliezer Awom meninggal dunia pada 15 Juni 2018 saat melakukan perjalanan di wilayah Papua Barat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para pendukung perjuangan Papua Barat.

Hingga kini, nama Eliezer Awom tetap dikenang sebagai salah satu tokoh senior Papua yang memiliki perjalanan hidup penuh dinamika serta sejarah panjang dalam konflik dan perjuangan politik di Tanah Papua.
(JMF)

18/05/2026

SIAPA YANG TAKUT PADA FAKTA "PESTA BABI" ?

Rezim yang takut pada film dokumenter adalah rezim yang takut pada kebenaran."Rektor IFTK Ledalero, Pastor Otto Gusti Ma...
18/05/2026

Rezim yang takut pada film dokumenter adalah rezim yang takut pada kebenaran."

Rektor IFTK Ledalero, Pastor Otto Gusti Madung, SVD, tidak memakai bahasa diplomasi ketika mengomentari pelarangan Pesta Babi di berbagai daerah—termasuk Flores.

Ia menyebutnya terang-terangan: tanda rezim otoritarian.

"Intimidasi seperti itu harus dilawan. Ketakutan akan membuat rezim totaliter bertambah kuat, sedangkan perlawanan membuat rezim otoritarian rapuh dan tumbang," katanya.

Baca selengkapnya di Floresa.com.

Terimakasih bang, karya dan keberanianmu sudah menjadi suara bagi banyak orang Papua. Dokumenter ini bukan hanya film, t...
17/05/2026

Terimakasih bang, karya dan keberanianmu sudah menjadi suara bagi banyak orang Papua. Dokumenter ini bukan hanya film, tapi bagian dari sejarah dan perjuangan yang akan selalu dikenang. Tuhan berkati selalu dalam setiap karya dan langkahmu ❤️ 🙏😇

Ngeri! Monster Baja Kepung Papua 😱Jhonlin Group kembali mendatangkan 264 unit excavator dari Tiongkok ke Merauke. Pengir...
15/05/2026

Ngeri! Monster Baja Kepung Papua 😱

Jhonlin Group kembali mendatangkan 264 unit excavator dari Tiongkok ke Merauke. Pengiriman dilakukan dalam tiga gelombang menggunakan tiga tongkang, masing-masing mengangkut 88 unit alat berat.

Sebelumnya, 500 unit excavator telah tiba pada 29 Juli 2024 di Distrik Ilwayab Wanam. Dengan tambahan terbaru ini, total excavator yang sudah tiba mencapai 764 unit dari total 2.000 unit pesanan untuk mendukung program lumbung pangan nasional di Papua Selatan.

27/04/2026

Akibat pembungkaman Ruang Demokrasi di Tanah Papua

Selamt siang info saat ini ada korban masuk sekitar 4 orang dan sementara di tangani oleh petugas Rumah sakit UGD RSUD wamena.

Usia Kemerdekaan Indonesia Semakin Tua, Namun Demokrasi dan Keadilan bagi Orang Asli Papua Selalu DibungkamJayapura, Sen...
27/04/2026

Usia Kemerdekaan Indonesia Semakin Tua, Namun Demokrasi dan Keadilan bagi Orang Asli Papua Selalu Dibungkam

Jayapura, Senin 27 April 2026

Setiap tahun, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya dengan penuh kebanggaan. Usia republik ini terus bertambah, menandakan perjalanan panjang sebagai bangsa yang berdaulat. Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab: apakah kemerdekaan itu dirasakan secara adil oleh semua anak bangsa, terutama Orang Asli Papua?

Demokrasi seharusnya menjamin kebebasan berpendapat, hak untuk bersuara, dan ruang bagi setiap warga negara untuk menentukan masa depan mereka. Tetapi realitas di Papua sering menunjukkan hal yang berbeda. Suara-suara kritis kerap dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Aspirasi masyarakat Papua sering kali tidak mendapatkan ruang yang setara dalam diskursus nasional.

Keadilan sosial yang menjadi cita-cita bangsa juga terasa belum sepenuhnya hadir. Ketimpangan pembangunan, akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas, serta konflik berkepanjangan menjadi gambaran yang masih nyata. Orang Asli Papua sering kali berada di posisi yang paling terdampak, sementara kebijakan yang diambil tidak selalu melibatkan mereka secara bermakna.

Pembungkaman tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Ia bisa berupa pembatasan ruang dialog, stigma terhadap kelompok tertentu, hingga kurangnya keberpihakan dalam kebijakan publik. Hal ini menciptakan rasa ketidakpercayaan yang terus tumbuh antara masyarakat Papua dan negara.

Padahal, kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya mendengar seluruh suara, termasuk suara yang berbeda. Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang sunyi dari kritik, melainkan yang mampu merangkul perbedaan dan menjadikannya dasar untuk perbaikan.
Sudah saatnya negara benar-benar hadir dengan pendekatan yang lebih adil dan manusiawi di Papua. Dialog yang terbuka, pengakuan terhadap hak-hak Orang Asli Papua, serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat lokal harus menjadi prioritas utama. Tanpa itu, kemerdekaan hanya akan menjadi simbol yang hampa bagi sebagian rakyatnya.

Usia Indonesia boleh semakin tua, tetapi kedewasaan demokrasi dan keadilan harus terus diperjuangkan. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang memastikan setiap warga negara merasakan keadilan, dihargai martabatnya, dan didengar suaranya.

Pemekaran DOB di Tanah Papua - Untuk Rakyat atau Kepentingan Elit ?Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua ke...
25/04/2026

Pemekaran DOB di Tanah Papua - Untuk Rakyat atau Kepentingan Elit ?

Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua kembali menjadi perbincangan hangat. Pemerintah pusat mengklaim bahwa pemekaran bertujuan untuk mempercepat pembangunan, mendekatkan pelayanan publik, serta membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat Papua. Namun di lapangan, muncul pertanyaan besar apakah pemekaran ini benar-benar untuk rakyat, atau justru lebih banyak menguntungkan segelintir elit dan kepentingan politik Jakarta?

Secara konsep, pemekaran wilayah memang bisa menjadi solusi untuk daerah yang luas dan sulit dijangkau seperti Papua. Dengan wilayah administratif yang lebih kecil, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur seharusnya bisa lebih merata. Namun realitasnya tidak selalu demikian. Banyak daerah hasil pemekaran di Indonesia justru menghadapi masalah baru seperti birokrasi yang membengkak, korupsi, serta ketergantungan tinggi pada dana pusat.

Di Papua, kekhawatiran itu semakin kuat karena pemekaran sering kali tidak lahir dari aspirasi murni masyarakat adat, melainkan dari dorongan elit politik. Pemekaran bisa membuka banyak jabatan baru gubernur, bupati, DPRD, hingga struktur birokrasi lainnya yang pada akhirnya menjadi ruang distribusi kekuasaan. Dalam konteks ini, DOB berpotensi menjadi “ladang politik” bagi elit lokal maupun pusat, bukan alat perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.

Selain itu, isu transmigrasi juga menjadi sorotan. Banyak masyarakat Papua merasa bahwa pemekaran wilayah dapat mempercepat masuknya penduduk dari luar Papua. Jika tidak diatur dengan bijak, hal ini bisa berdampak pada perubahan komposisi demografis, tekanan terhadap tanah ulayat, serta marginalisasi masyarakat asli papua. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, mengingat sejarah panjang konflik agraria dan ketimpangan ekonomi antara penduduk asli dan pendatang.

Tanah Papua bukan sekadar wilayah administratif, tetapi ruang hidup yang memiliki nilai adat, budaya, dan spiritual yang kuat. Oleh karena itu, setiap kebijakan, termasuk pemekaran DOB, seharusnya melibatkan partisipasi aktif masyarakat adat. Tanpa itu, pemekaran hanya akan memperdalam ketidakpercayaan terhadap pemerintah.
Pemerintah perlu jujur melihat bahwa pembangunan tidak hanya soal membagi wilayah, tetapi juga soal keadilan, penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat, dan pengelolaan sumber daya yang berpihak pada rakyat. Jika pemekaran hanya menjadi alat politik dan ekonomi bagi elit, maka yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan potensi konflik baru.

Akhirnya, pertanyaan mendasar tetap harus dijawab apakah pemekaran DOB di Papua benar-benar dirancang untuk menjawab kebutuhan rakyat, atau hanya menjadi strategi kekuasaan yang dibungkus dengan narasi pembangunan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan Tanah Papua apakah menuju kesejahteraan yang adil, atau semakin terjebak dalam ketimpangan yang berkepanjangan.

Pergaulan bebas pada usia remaja bukan sekadar “gaya hidup”, tapi bisa membawa dampak serius bagi masa depan. Di usia in...
24/04/2026

Pergaulan bebas pada usia remaja bukan sekadar “gaya hidup”, tapi bisa membawa dampak serius bagi masa depan. Di usia ini, seseorang masih dalam proses mencari jati diri, sehingga mudah terpengaruh lingkungan tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.

Salah satu bahaya utamanya adalah risiko kesehatan. Perilaku seksual tanpa tanggung jawab dapat menyebabkan kehamilan di usia dini serta penularan penyakit seperti HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual. Selain itu, penggunaan alkohol atau zat berbahaya dalam pergaulan juga dapat merusak tubuh dan mengganggu perkembangan otak remaja.

Dari sisi psikologis, pergaulan bebas sering menimbulkan tekanan emosional, rasa bersalah, bahkan depresi. Remaja yang belum siap secara mental bisa mengalami kebingungan, kehilangan arah hidup, atau terjebak dalam hubungan yang tidak sehat dan merugikan diri sendiri.

Dampak sosial juga tidak kalah besar. Pergaulan bebas dapat merusak reputasi, hubungan dengan keluarga, serta mengganggu pendidikan. Banyak remaja akhirnya kehilangan fokus belajar, putus sekolah, atau terlibat dalam tindakan yang melanggar norma dan hukum.

Yang perlu dipahami, kebebasan bukan berarti tanpa batas. Remaja tetap membutuhkan nilai, prinsip, dan kontrol diri. Lingkungan pertemanan yang sehat, komunikasi terbuka dengan orang tua, serta kegiatan positif seperti olahraga, seni, atau organisasi bisa menjadi benteng kuat agar tidak terjerumus.

Address

Papua
Jayapura

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Honai Koteka posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share