18/06/2016
Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau itu kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya, pada akal dan pikiran kita sendiri.
Ibadah kapitalis itu namanya. Kaum sufi menyebut kita muslim hayawani, pelaku ibadah yang terminologinya terbatas pada surga dan neraka. Padahal, keduanya hanya formula yang oleh Tuhan disesuaikan dengan idiom bahasa manusia untuk menggambarkan bentuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang asli, keuntungan dan kerugian yang sesungguhnya.
Padahal, kita yang kurang serius meningkatkan mutu kemusliman sesudah memeluk Islam berpuluh-puluh tahun lamanya masih seret maju dari jenis kemusliman yang lebih rendah daripada itu, yakni muslim rabbani.
Itu taraf kemusliman birokrasi atau kepegawaian. Kita melakukan shalat, zakat, puasa, dan lain-lain karena takut pada atasan. Kalau biasanya atasan kita camat, kasubdit, kabag, atau mandor, dalam urusan ibadah mahdhoh, atasan kita adalah Tuhan itu sendiri. Jadi, kita jungkar-jungkir di masjid dalam substansi untuk mengisikan tanda tangan presensi supaya gaji kita tidak dipotong atau karena takut di-PHK.
…
Puasa itu sendiri adalah metode (tarekat) yang luar biasa untuk memproses diri jadi ahsani taqwim, tak sekedar jadi manusia Indonesia seutuhnya. Lha wong Allah sendiri yang menciptakan metode itu. Dia mewajibkan puasa karena menjamin bahwa ia lebih sempurna dibanding segala penemuan metodik kita untuk merekayasa penyempurnaan kemanusiaan kita.
Saya sendiri tak pernah selesai menghitung makna puasa. Ya untuk peragian rohani. Ya untuk melatih segala anasir yang baik dari mentalitas dan kejiwaan. Ya untuk menghayati secara total betapa sia-sianya benda, kekayaan, pangkat, kenyang, enak, serta segala macam ciri dunia yang tiap hari kita kempit habis-habisan. Macam-macamlah, tak terhingga jumlah manfaatnya. Puasa membawa kita ambil jarak dari segala sesuatu selain Allah yang selama ini menenggelamkan diri kita. Diri yang hanya satu ini kita berikan kepada dunia sampai habis, lantas apa yang tersisa untuk Allah? Padahal, setiap saat kita berjanji sehidup semati, gunung kan kudaki, lautan kan kuseberangi untuk Allah semata.
Dalam bulan Ramadan, apa ya tega kita kepada diri kita sendiri bila terus-terusan berpuasa dengan kadar dan target yang begini-begini terus?
Untunglah kita-kita ini tetap dijaga oleh Allah untuk tetap Muslim, meskipun tak naik tingkat dan barisan ban kuning. Dengan tetap Muslim, setidaknya terpelihara pengetahuan kita bahwa Allah selalu begitu kasih memberi jalan benar kepada hamba-hamba-Nya. Antara lain, melalui kewajiban puasa.
Bayangkan andai kata Allah tak mewajibkan puasa, mungkin kita jadi lupa pada cinta dan tuntunan-Nya.
Apalagi puasa itu diwajibkan bagi seluruh manusia. Juga sholat, zakat, amal shaleh, dan seterusnya. Banyak, lho orang berkata, “Kalau Anda Muslim, Anda diwajibkan sholat, puasa, zakat, …” seolah-olah kalau kita tidak Muslim lantas tidak berdosa bila tak sholat. Lucu.
Kalau begitu, enakan tidak Muslim, bias terbebas dari dosa tak sholat, dosa maling, dosa korupsi, dosa menindas, dosa menggusur ….
Sember Tulisan: Emha Ainun Nadjib, Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, 33-36)
Sumber Gambar: Fanspage Facebook Kata Maiyah