Wisata dan Arsitektur

Wisata dan Arsitektur Arsitektur adalah karya cipta manusia, ekspresi dari kebudayaan manusia dari masa ke masa

22/01/2026

Pada 13 April 1612, di sepetak kecil tanah terpencil di antara dua pulau utama Jepang, Honshu dan Kyushu, takdir dua pendekar pedang terbesar di Jepang abad ke-17 mencapai puncaknya.

Duel Ganryu-Jima, sebuah pertarungan sampai mati antara Miyamoto Musashi dan Sasaki Kojiro, bukan hanya bentrokan dua gaya bertarung yang mematikan; ini adalah pertunjukan filosofi, psikologi, dan strategi—di mana kehormatan seorang samurai dipertaruhkan, dan di mana kemenangan diraih melalui cara yang, bagi sebagian orang, terang-terangan tidak terhormat.

Kisah duel ini telah diabadikan dalam legenda, cetakan, dan layar, namun selalu ada bayangan keraguan, tidak hanya pada detail pertempuran itu sendiri, tetapi bahkan pada keberadaan salah satu pesertanya.

Sasaki Kojiro, sang "Iblis dari Provinsi Barat," adalah ahli pedang flamboyan yang dikenal karena kecakapan mematikannya. Di sisi lain, Miyamoto Musashi, sang ronin yang kelak dihormati sebagai kensei atau "pedang suci," menganut kode prajurit yang ketat, meskipun ia sering dituduh melakukan segala cara demi meraih kemenangan.

Pertarungan yang mereka adakan—yang konon diatur oleh Musashi melalui perantara, samurai Hosokawa Tadaoki—bukanlah sekadar uji coba keahlian biasa di masa itu; itu adalah persaingan sengit antara dua rival di puncak kemampuan mereka.

Tetapi bagaimana mungkin seorang pendekar legendaris yang mendirikan sekolah Ganryu dengan teknik andalannya, Tsubame Gaeshi ("potongan menelan yang berbalik"), harus menemui ajalnya dalam kondisi yang begitu memalukan dan brutal di hadapan musuh bebuyutannya?

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134331649/sasaki-kojiro-samurai-musuh-bebuyutan-miyamoto-musashi-yang-tewas-dengan-hina

22/01/2026

Seorang penjelajah Prancis bernama Paul de La Gironière, telah menerbitkan bukunya yang fenomenal di awal abad ke-19. Sebuah fakta yang mengungkap kengerian dari masyarakat awal Filipina.

Twenty Years In The Philippines (1819-1839) yang terbit pertama pada tahun 1853, mengisahkan kedatangannya pertama kali di Filipina pada tahun 1819.

Di Filipina, ia mulai mendirikan kota Jala Jala di provinsi Rizal saat ini. Ia mengelolanya selama hampir 20 tahun hingga kematian istri dan putranya. Bersama Alila, asistennya, ia berhenti di suatu tempat dalam ekspedisinya di Jala Jala.

Mereka berhenti di wilayah Tinguians of Abra, kawasan di mana suku Tinguian tinggal selama berabad-abad lamanya. Kelompok etnis itu dikenal sangat ramah kepada kedua penjelajah Prancis itu.

Menurut bukunya, Gironière dan asistennya mendapati kelompok etnis itu lebih baik dari yang mereka duga. Saking ramahnya, mereka ditawari oleh pemimpin suku untuk turut dalam perayaan ritus mereka.

Dari sana, mereka mendapatkan undangan kehormatan sebagai pengunjung dan orang asing yang diterima dengan baik oleh suku pedalaman Filipina. Datanglah mereka menemui jamuan suku Tinguian. Betapa terkejutnya mereka ketika datang dalam undangan.

Ternyata, Gironière dan Alila diundang untuk ambil bagian dalam "brain party" atau pesta otak—sebuah perayaan tradisional yang diadakan setiap kali kelompok tersebut memenangkan pertempuran melawan suku saingan.

Kisah selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/133403417/layaknya-zombie-suku-filipina-kuno-pesta-makan-otak-manusia

22/01/2026
https://web.facebook.com/share/p/14VuPRzAivK/
22/01/2026

https://web.facebook.com/share/p/14VuPRzAivK/

Tak banyak yang kenal dengan tradisi para santri Al Mukmin di Ngruki, Surakarta, secara turun temurun. Mereka terbiasa menikmati liburan akhir tahun sebelum kepulangan ke rumah dengan jelajah dan tadabur alam.

Ini juga yang terjadi kepada mereka, para santri dan ustaz yang hendak melakukan berkemah ke Gunung Lawu. Sebagai program pondok, jelajah alam adalah bagian dari cara pembelajaran di Al Mukmin untuk mengenalkan alam semesta sebagai bukti keagungan Sang Pencipta.

Kisah perjalanan ini, penulis dapatkan dari sebuah buku yang fenomenal berjudul Kisah Nyata: Musibah Gunung Lawu yang ditulis tim redaksi Pondok Pesantren Islam Ngruki Surakarta sekitar tahun 1988.

Ustaz Muchtar Tri Harimurti, guru di SMA Al Islam 1 Surkarta yang kala itu juga turut berkemah di Gunung Lawu pada waktu yang sama, menyebut pada siang hari itu, Selasa, 15 Desember 1987 menjadi siang yang gelap pekat, bak akan turun hujan, mengubah suasana menjadi mencekam.

Meski masih siang, penerangan dengan lampu sudah mulai digunakan para santri untuk menerangi petualangan mereka. Pekikan takbir menjadi isyarat komunikasi antar regu bahwa mereka tetap berada di trek yang benar.

Simak kisah selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/133343355/tragedi-lawu-1987-merenggut-nyawa-15-santri-dan-1-ustaz-al-mukmin

PESAN FILSUF
22/01/2026

PESAN FILSUF

Address

Makassar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wisata dan Arsitektur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Wisata dan Arsitektur:

Share