06/06/2026
DJ Tak Selalu Dunia Malam! Diah Krishna Buktikan Musik Bisa Jadi Wadah Pelestarian Budaya
Dunia Disc Jockey (DJ) sering kali lekat dengan citra dunia malam, obat-obatan terlarang, hingga gaya hidup hura-hura. Namun, pandangan miring tersebut berhasil ditepis oleh talenta muda asal Giri Emas, Buleleng, DJ Diah Krishna. Mengawali karier dari kegemarannya terhadap musik, perempuan yang sempat meniti karier sebagai content creator dan bekerja di sektor pariwisata ini kini sukses menjadikan profesi DJ sebagai ladang kreativitas yang positif dan bernilai ekonomi tinggi.
Dalam sebuah obrolan santai di program channel "Tutur Nganggur", Diah Krishna menceritakan awal mula ketertarikannya pada dunia mixing lagu ini. Ketertarikannya pada musik sejatinya sudah ada sejak kecil, bahkan ia sempat berencana mendalami alat musik keyboard. Namun, melihat peluang industri di Bali, pilihan hatinya akhirnya jatuh pada dunia DJ di tahun 2022.
“Awalnya memang ada ketakutan dari pihak keluarga karena stereotip negatif dunia malam yang melekat pada profesi ini. Tapi saya terus merayu orang tua dan membuktikan bahwa DJ zaman sekarang tidak harus selalu identik dengan klub malam. Sekarang DJ sudah merambah ke acara-acara privat, seperti perayaan ulang tahun, pernikahan, bahkan upacara adat tiga bulanan (nelubulanin) dan melaspas,” ungkap Diah Krishna.
Perjalanan kariernya tidak didapat secara instan. Diah menempuh pendidikan formal di sebuah sekolah DJ di daerah Badung selama empat bulan pada tahun 2022 sebelum akhirnya berani mengambil pekerjaan secara profesional pada tahun 2023 setelah lulus ujian penyelarasan beat.
Salah satu misi mulia yang kini tengah digarap oleh Diah Krishna adalah menghidupkan kembali lagu-lagu tradisional anak-anak Bali (Rareanom) yang mulai terlupakan oleh generasi z dan alpha, seperti lagu Ratu Anom dan Curik-Curik. Melalui sentuhan musik modern seperti Am piano, Afro, hingga Drum and Base, ia mengemas ulang lagu-lagu lawas tersebut agar lebih ramah dan dapat diterima di telinga generasi muda saat ini.
“Anak-anak zaman sekarang banyak yang sudah lupa dengan lagu anak Bali, mereka justru lebih tahu lagu-lagu bertema dewasa. Lewat aransemen baru ini, saya ingin mengajak mereka kembali mengenang dan mencintai kebudayaan kita sendiri,” tuturnya. Ke depan, ia juga menyimpan impian besar untuk bisa berkolaborasi memadukan musik DJ dengan kesenian tradisional Bali lain, seperti Bondres, Joged, maupun iringan gamelan tradisional.
Kini, jadwal manggung Diah Krishna terbilang sangat padat. Pada musim-musim sibuk upacara adat atau pernikahan, ia bahkan bisa menerima hingga 25 kali tawaran manggung dalam sebulan. Meski begitu, ia membatasi diri maksimal satu panggung per hari demi menjaga performa fisik dan kualitas penampilannya. Didampingi oleh pihak manajemen, ia selalu menerapkan prinsip disiplin, salah satunya dengan wajib tiba di lokasi satu jam sebelum tampil untuk membaca situasi penonton.
Menyikapi tantangan pekerjaan—mulai dari risiko alat musik seharga belasan juta rupiah yang rusak akibat tersiram minuman penonton hingga godaan penonton yang mabuk—Diah selalu menanggapinya dengan kepala dingin dan profesionalisme tinggi.
"Bagi saya, kami di panggung hiburan ini adalah pelayan masyarakat. Melihat orang lain bisa bahagia, ikut menggerakkan badan, dan menikmati musik yang kita bawakan, itu adalah kepuasan luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan uang," pungkasnya dengan penuh semangat.
Sumber : YouTube Tutur Nganggur
Pict By. Bali Atmosphere Photography