ngawi.in

ngawi.in tempat berbagi ilmu dan hiburan

Bab 20 Seolah mereka melihat dewakematian sedang berdiri di hadapan mereka.Wahna tidak peduli dan tidakberhenti. Memasuk...
06/03/2026

Bab 20

Seolah mereka melihat dewa
kematian sedang berdiri di hadapan mereka.
Wahna tidak peduli dan tidak
berhenti. Memasukkan belati ke
ruang penyimpanan system, tangan
kanannya menjulur ke samping,
sebilah pedang kusam muncul dari
udara tipis, langsung tergenggam di tangan.
'Gerakan kedua, Tebasan
Maut!' raung Wahna dalam hati.
Melompat tinggi ke udara,
Wahna menebaskan pedangnya ke
udara kosong, langsung ke arah
kawanan bandit yang masih berdiri
terpaku, "Slash!"
"Buk! Buk! Buk!" dalam sekali
tebasan, tiga kepala bandit
terguling di lantai tanah. Pun belum
berhenti, Wahna menebas lagi dan
lagi, hingga muncul notifikasi
system di benaknya.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Pedang Surgawi telah naik
tingkat. Level saat ini adalah 2/10."
Sebenarnya, entah berapa kali
notifikasi system terdengar di benak
Wahna. Setiap kali ia memenggal
kepala bandit, dering notifikasi
terus berbunyi.
Namun Wahna
mengabaikannya, ia terus bergerak,
tidak menentu, muncul di antara
kawanan bandit dan memenggal
mereka tapa peringatan.
Dari dua ratus bandit yang
mengepung, hanya tersisa sekitar
tiga puluh orang saja. Tak pelak,
mereka langsung bergerak mundur,
bahkan ada yang melarikan diri.
Melihat situasinya terbalik, dua
orang pimpinan bandit, yang saat
ini sedang bertarung dengan kedua
paman Wahna, panik dan mencoba
melarikan diri.
Namun nahas, ketika mereka
lengah terhadap pergantian
peristiwa yang begitu tiba-tiba,
keduanya terkena serangan fatal
dari paman Wahna.
Tidak menyia-nyiakan
kesempatan, Wahna langsung
bergerak cepat, memenggal kedua
pimpinan bandit dengan tebasan pedang.
Bagi Wahna, kedua pimpinan
bandit ini adalah Poin
Pengalamannya yang cukup
berharga. Nilainya lebih tinggi dari
kebanyakan bandit yang menjadi sasarannya.
Tidak berhenti sampai di situ,
Wahna kembali bergerak,
membantai para bandit yang belum
sempat melarikan diri.
Dalam waktu singkat, jalanan
itu penuh darah, dipenuhi mayat-
mayat bergelimpangan. Wahna
sibuk memeriksa setiap tubuh para
bandit, mengumpulkan tas ruang
yang mereka miliki.
"Senior, terima kasih atas
bantuan Senior," sapa Paman Kedua
Wahna dengan badan membungkuk.
Menegakkan badan dan
menoleh, Wahna melemparkan satu
tas ruang yang berisikan sejumlah
koin emas, “Beri mereka masing-
masing lima puluh koin emas!
Sisanya untuk biaya perawatan yang
terluka dan kebutuhan keluargamu."
Tanpa menunggu jawaban
paman keduanya, Wahna melompat
ke ketinggian pohon, menghilang
dari pandangan rombongan
Keluarga Rahngu.
Suasana menjadi hening,
seluruh orang di kelompok
Keluarga Rahngu masih termangu,
menatap ke arah yang sama, arah di
mana perginya sosok tak dikenal itu.
Entah siapa yang memulai,
semua orang membungkukkan
badan ke satu arah itu, penuh rasa
syukur dan ucapan terima kasih.
Terlebih lagi bagi para penjaga,
mendapatkan lima puluh koin emas
adalah sesuatu yang tidak pernah
mereka impikan sebelumnya. Upah
mereka dalam pengawalan ini,
hanya berkisar tiga sampai lima
koin emas saja.
***
Pada tempat yang berbeda,
masih di hutan dekat perbatasan
Kota Ragane, tampak tujuh orang
terengah-engah, duduk bersandar
pada sebuah batang pohon besar.
"Siapa sebenarnya orang itu?
Apakah Keluarga Rahngu menyewa
kultivator kuat?" gumam heran
seorang bandit, menyeka keringat
dingin di dahinya.
Seorang bandit yang lain
menanggapi, “Mungkin saja. Tetapi
dengan melihat efektivitas
tempurnya, apakah mungkin
Keluarga Rahngu mampu
membayarnya? Aku tidak
menyangka, Keluarga Rahngu
memiliki pelindung yang kuat.”
"Siapa?" salah seorang bandit
langsung berteriak, dia merasakan
dirinya sedang diawasi oleh pihak lain.
Spontan semua orang berdiri
dan waspada. Seseorang dengan
pakaian serba hitam ala ninja,
mendarat dan berdiri sepuluhan
meter di depan mereka.
"Siapa kamu sebenarnya?
Berapa Keluarga Rahngu
membayarmu? Kami bisa
melipatgandakannya jika kamu
berada di pihak kami,” bujuk
seorang bandit Tahap Transformasi
tingkat Kedelapan.
Mendengar itu, Wahna
mengerutkan kening, dan pura-
pura bertanya, "Benarkah? Tidak
tertarik!"
"Kamu tidak mungkin bisa
mengalahkan kami ketika kami
bekerja sama," ancam salah satu
bandit, langsung menyerukan
rekan-rekannya yang lain, “ayo!
Serang dia secara bersamaan!"
Namun, tepat ketika serangan
hendak dilancarkan, semua orang
hanya berdiri diam di tempat. Lima
detik berikutnya, enam di antaranya
menjerit, jatuh berlutut,
memuntahkan seteguk darah,
tewas seketika setelahnya.
Wahna telah mengaktifkan
Tehnik Mata Dewa, menciptakan
ilusi penyiksaan pada jiwa keenam orang itu.
Mendapati enam rekannya
tewas tanpa tahu apa penyebabnya,
satu-satunya bandit yang tersisa,
gemetar tidak terkendali, jatuh
berlutut saat itu juga.
"Senior, tolong jangan bunuh
aku, Senior! Aku hanya
menjalankan perintah," rengek
bandit itu, bercucur air mata
memohon belas kasihan.
Melihat bandit itu menangis,
Wahna sebenarnya ingin tertawa
terbahak-bahak. Bagaimana tidak,
penampilan dan tampang bandit
sangat bertolak belakang dengan
kondisinya sat ini.
Bertubuh kekar, wajahnya
terlihat sangar, bahkan terdapat
bekas diagonal di wajahnya. Belum
lagi dengan pedang yang
dibawanya, ukuran jauh lebih besar
dari yang pernah dilihat Wahna.
Tapi kini, pria sangar nan kekar
itu sedang menangis, memohon
belas kasihan, bahkan bergelimang
ingus dari hidungnya.
"Oh, menjalankan perintah?
Tugas dari siapa? Apa kamu pikir
aku peduli?!" sahut Wahna dengan dingin.
"Senior, Senior tidak bisa
membunuhku. Jika tidak, Tuan
Muda akan membuat Senior berada
dalam kesulitan," kata pria kekar
itu, melihat ada keraguan di mata
Wahna, bandit itu memberanikan
diri untuk bangga terhadap
identitas kekuatan di belakangnya.
"Tuan Muda? Jangankan Tuan
Muda, bahkan jika Tuan Tua
sekalipun, aku tidak peduli," lontar
Wahna sembari melangkah maju,
perlahan-lahan ke arah bandit itu.
"Senior, tolong ampuni
hidupku! Keluarga Wade akan
berterima kasih untuk ini dan---.
sebelum bandit itu menyelesaikan
kalimatnya, kepalanya sudah
terlepas, jatuh di lantai tanah
dengan mata membelalak.
'Keluarga Wade? Bukankah
keluarga ini merupakan keluarga
kelas satu! Kenapa keluarga ini
memusuhi Keluarga Rahngu?
Apakah ini kekuatan di belakang
Keluarga Dege yang dimaksud
Kakek?'batin Wahna menduga- duga.
Memeriksa tubuh para bandit
dan mengambil apa pun yang
berharga, Wahna membakar tubuh
para bandit itu dengan Api Chaos,
memusnahkan mereka menjadi abu
sebelum meninggalkan tempat.
***
Di tengah perjalanan, ayah
Wahna dan rombongan bertemu
dengan kelompok Mistur Rahngu.
"Adik Kedua, bagaimana
keadaanmu?” melihat sebagian
penjaga terluka, Wahyu Rahngu
bertanya dengan cemas.
Mistur Rahngu menarik napas
panjang sebelum menjawab, “Kami
baik-baik saja. Ada seorang senior
yang membantu ketika kami
dikepung oleh dua ratusan orang
kawanan bandit. Jika senior itu
tidak datang tepat waktu, mungkin
kami sudah---”
Belum selesai Mistur Rahngu
berbicara, Zaleh Rahngu menyela
dan berseru, "Senior itu sangat
kuat, Kak! Hampir semua bandit
dibantai kurang dari sepuluh menit."
Mendengar ini, baik Wahyu
Rahngu maupun Zakat Rahngu
saling beradu pandang. Merasa
terlalu aneh dengan sosok yang
dibicarakan kedua saudara mereka.
"Apakah kalian tahu siapa
Senior itu? Mungkin kita bisa
berkunjung untuk berterima kasih,”
tanya Zakat Rahngu dengan penasaran.
Sambil menggelengkan kepala,
Mistur Rahngu menjawab, “Kami
tidak tahu. Senior itu memakai
pakaian serba hitam dan penutup
wajah. Hanya kedua matanya yang
tampak."
"Selain itu, Senior itu juga
memberi kami banyak koin emas,
Kak. Semuanya untuk dibagikan
kepada seluruh di Keluarga Rahngu
kita," ungkap Zaleh Rahngu menimpali.
Wahyu Rahngu dan Zakat
Rahngu tertegun, menjadi semakin
aneh tentang siapa identitas
penolong keluarga mereka itu.

Bersambung ke bab 21

Bab 19bandit ketika di perjalanan kembali.""Bawa dia ke dalam dan berikanperawatan secepatnya!" perintahPatriak Rahngu k...
06/03/2026

Bab 19

bandit ketika di perjalanan kembali."
"Bawa dia ke dalam dan berikan
perawatan secepatnya!" perintah
Patriak Rahngu kepada beberapa
orang pelayan.
Melihat kondisi mendesak,
Wahyu Rahngu segera mengambil
sikap, "Aku akan berangkat ke
perbatasan bersama Zakat, Ayah."
"Bawa beberapa penjaga!"
angguk Patriak Rahngu, antara
khawatir dan geram, campur aduk
di dalam pikirannya.
Begitu ayah dan paman
ketiganya berangkat ke perbatasan
Kota Ragane, Wahna menuju bukit
belakang rumahnya. Untuk
menghindari kecurigaan,
ia menyampaikan kepada ibunya,
bahwa dirinya akan berlatih.
Tiba di bukit belakang
rumahnya, Wahna menukar lima
ratus Poin System dengan kupon
undian. Pun meminta System untuk
langsung mengundinya.
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
System: “Ding! Selamat, Tuan. Anda mendapatkan
lima butir Mutiara Kesialan.”
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda mendapatkan Tehnik
Pemulihan tingkat Legendaris."
System: "Ding! Selamat, Tuan. Anda belum beruntung."
Sambil mendengar bunyi
notifikasi system, Wahna melompat
dari pohon ke pohon dengan
kecepatan penuh, hampir serupa
dengan lompatan seekor kera.
Waktu tempuh menuju ke
perbatasan dengan kecepatan ayah
Wahna, setidaknya bisa memakan waktu satu hari.
Namun berbeda dengan
Wahna, dia memiliki elemen angin
dan Tehnik Langkah Angin. Dengan
tehniknya yang berada pada level
Keempat, dia hanya membutuhkan
waktu sekitar satu jam saja.
"System, apa fungsi Mutiara
Kesialan?" sambil melompat dan
berlari terus-menerus, Wahna
meminta system menjelaskan apa
yang diperolehnya dari undian.
System: “Ding! Mutiara Kesialan berfungsi
jika diletakkan pada seseorang dan diaktifkan.
Maka orang tersebut akan
mengalami kesialan secara terus
menerus selama enam puluh detik."
"System, pelajari Tehnik
Pemulihan," pinta Wahna
melanjutkan.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan telah mempelajari Tehnik
Pemulihan tingkat Legendaris.
Level saat ini adalah 0/10."
Seketika, segala pengetahuan
dan kekuatan pemulihan memasuki
otak dan tubuhnya. Membuat
Wahna sedikit terperangah atas
informasi baru yang diterimanya.
Tiba-tiba notifikasi system kembali terdengar.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Langkah Angin telah naik
tingkat ke level Kelima."
System: "Ding! Dengan level ini,
Tuan dapat menciptakan sayap
angin untuk terbang."
Mendengar hal asing dari
notifikasi system, Wahna langsung
berhenti, berdiri di sebuah dahan
pohon yang tinggi.
Dengan pikirannya, Wahna
menggunakan elemen angin,
memadatkan sayap sebagaimana
pengetahuan yang memasuki kepalanya.
Dalam satu tarikan napas,
sepasang sayap muncul dari
punggungnya. Sayap itu berwarna
hijau terang, lebar masing-masing
mencapai dua meter ketika mengepak.
Tentu Wahna sangat gembira.
Tepat ketika situasi mendesak
Tehnik Langkah Angin yang dia
miliki, mengalami terobosan
melebihi ekspektasi.
Dengan mengepakkan kedua
sayapnya, Wahna terbang tinggi ke
angkasa. Namun cara terbang
Wahna tergolong aneh. Ia terbang
ke kanan dan ke kiri, bahkan
kadang-kadang terbang mundur.
Mirip dengan pesawat terbang yang
dikemudikan oleh pilot mabuk alkohol.
“Sialan! Ini pertama kalinya
aku terbang. Jadi belum terbiasa,"
gerutu Wahna, sedikit kesal dengan dirinya sendiri.
Setelah sempat berhenti,
Wahna kembali menyesuaikan cara
terbangnya. Tapi tiba-tiba, “Bruak!"
Entah bagaimana, sebuah
batang pohon yang cukup besar,
ditabrak begitu saja. Membuat
Wahna terjatuh dari ketinggian,
berguling-guling di tanah.
"Aduh! Aduh! Sialan!
Berengsek!" sambil mengumpat,
Wahna mengelus kepalanya sendiri.
Tidak terduga, Wahna
memuntahkan seteguk darah. Ini
adalah kali pertama bagi Wahna,
terluka di dunia yang menurutnya belum ada kejelasan.
"Tehnik Pemulihan!' seru
Wahna di dalam hati.
Dengan kecepatan yang dapat
dilihat oleh mata, luka-luka kecil
maupun luka dalam yang diderita,
pulih dengan sendirinya secara perlahan.
Tidak perlu waktu lama, sekitar
lima menit kemudian, semua luka
yang dialami Wahna sembuh secara total.
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tehnik Pemulihan telah naik
tingkat. Level saat ini 1/10."
"Eh?" Wahna tertegun sejenak.
Ia tidak menyangka, setelah
menabrak pohon dan terjatuh,
tehniknya justru mengalami
terobosan begitu diaktifkan.
Pulih dari pikirannya sendiri,
Wahna kembali terbang dengan
sayap hijaunya yang membentang.
Pada awalnya, Wahna
memperkirakan akan
membutuhkan waktu sekitar satu
jam untuk sampai ke tempat
tujuan, yakni perbatasan Kota Ragane.
Tapi dengan terbang
berkecepatan seperti yang dia alami
sekarang, hanya dalam waktu tiga
puluh menit saja untuk tiba.
Perlu diketahui, bahwa di dunia
antah berantah ini, hanya
seseorang dengan kekuatan Tahap
Prajurit Alam yang memiliki
kemampuan untuk terbang.
Itu pun harus beristirahat
sesekali waktu, setidaknya setiap
menempuh jarak satu kilo meter.
Hal ini guna memulihkan energi
tubuh yang terkuras.
Namun sangat berbeda dengan
Wahna, memiliki sayap angin yang
merupakan perubahan bentuk dari
elemen angin, ia mampu terbang
hingga seratus mil tanpa istirahat.
Tiba di lokasi yang dituju,
Wahna bersembunyi di sebuah
dahan pohon. Tidak hanya tinggi,
tempatnya berada juga tersembunyi
oleh lebatnya dedaunan.
Mengamati area sekitar, Wahna
mendapati sekitar dua ratus orang
kawanan bandit di tengah jalan.
Mereka sedang mengepung
rombongan pamannya, yang
berjumlah hanya lima puluh orang.
Dari segi kekuatan, sebagian
besar para bandit ini berada pada
Tahap Transformasi tingkat Ketiga
hingga tingkat Kesembilan.
Tapi kekuatan tertinggi berada
pada Tahap Penyempurnaan Qi
tingkat Kedelapan, sama dengan
kekuatan pamannya.
Dengan kekuatan dan jumlah
kawanan bandit sebanyak itu, jelas
rombongan pamannya sangat
kewalahan dan terdesak. Bahkan
saat ini sudah ada yang tewas.
Tanpa pikir panjang, Wahna
langsung mengganti pakaiannya
dengan warna hitam. Juga
menutupi wajahnya, yang terlihat
hanya kedua matanya saja.
Dalam situasi ini, Wahna tidak
terpikirkan akan Topeng Siluman
miliknya. Pikirannya buyar untuk
sekedar membayangkan siapa yang
akan dia tiru fisiknya. Jadi, cara
tercepat adalah dengan menutupi wajahnya.
Mengambil sepasang belati dari
ruang penyimpanan system, Wahna
melompat ke medan pertempuran,
langsung menebas dua orang bandit.
Seketika, dua orang bandit itu
jatuh bersimbah darah. Kepala
terpisah dari badan, sabetan Wahna
mengarah tepat pada leher mereka.
Tanpa menunggu lagi, Wahna
mengarah ke orang-orang
pamannya yang terdesak. Bereaksi
dan bergerak cepat,
ia melemparkan sepasang belati dari
tangannya.
"Buk! Buk! Buk! ...," lima suara
benda jatuh terdengar, bersamaan
dengan lima kepala para bandit
terlepas dari badan.
Masih tidak berhenti, setiap
kali Wahna bergerak, lima hingga
delapan bandit akan terpenggal.
Efektivitas pertempurannya sangat
luar biasa saat ini.
Menyaksikan tindakan cepat
penuh kekejaman oleh orang yang
tidak dikenal, baik pihak kawanan
bandit maupun kelompok Keluarga
Rahngu, mereka sama-sama tercengang.
Hingga detik ini, mereka belum
pernah melihat seseorang yang
bertempur dengan kecepatan dan
keganasan seperti itu, yang
menurut semua adalah kegilaan.
Namun hal ini membuat
kelompok Keluarga Rahngu
menjadi bersemangat. Harapan
kembali muncul, mereka akan
tertolong dari kawanan bandit yang
jumlahnya jauh lebih banyak.
Betapa tidak, belum sepuluh
menit sosok tak dikenal itu
bergabung dalam pertempuran,
lebih dari seratus kawanan bandit
terpenggal begitu saja.
Sebaliknya, para bandit yang
tersisa dibuat panik dan gemetar.

Bersambung ke bab 20

Bab 18 "Ayah!" sapa Wahyu Rahngu memanggil."Bagaimana dengan Wah---,"belum selesai ia bicara, lelaki tua itumenoleh dan ...
05/03/2026

Bab 18

"Ayah!" sapa Wahyu Rahngu memanggil.
"Bagaimana dengan Wah---,"
belum selesai ia bicara, lelaki tua itu
menoleh dan melihat sosok Wahna
berada di belakang putra sulungnya.
Lelaki tua yang tidak lain
adalah Patriak Rahngu, yang pada
awalnya sangat cemas, seketika
digantikan dengan keheranan,
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu
baik-baik saja? Dan ... dan kultivasimu?”
Tiga hari sebelumnya, Patriak
Rahngu mengetahui bahwa cucunya ini,
Wahna Rahngu, masih berada
pada Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan.
Namun sekarang, tepat di
depan matanya, pemuda belia itu
sudah berada pada Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat
Kedelapan. Ini benar-benar di luar imajinasinya.
“Aku baik-baik saja, Kakek.
Kebetulan aku mendapat
keberuntungan," jawab Wahna
sambil tersenyum, sedikit
membungkuk sebagai tanda hormat.
Seakan tidak mendengar
perkataan Wahna, Patriak Rahngu
bergegas menghampiri cucunya.
Memandangi dari ujung ke ujung,
menyentuh tangan, bahu, p**i,
hingga mengusap kepala cucu laki- lakinya itu.
Patriak Rahngu tertawa
terbahak-bahak di saat berikutnya,
diikuti air liur yang muncrat ke
mana-mana, “Hahahaha...
akhirnya... akhirnya Jenius
Keluargaku kembali."
Lelaki tua itu segera mengajak
putra dan cucunya duduk di dalam
ruang aula. Ekspresi wajahnya
sangat gembira sekaligus penasaran.
"Ceritakan pada Kakek! Apa
yang terjadi padamu!" pinta Patriak
Rahngu, yang juga adalah kakek
Wahna, ayah dari Wahyu Rahngu.
Tidak menolak, Wahna
menceritakan sebagian kecil apa
yang dia alami di dalam Hutan
Kematian. Namun tentang System,
celah batu dan tindakan
pembunuhan yang dilakukan
Keluarga Dege, tetap ia simpan di dalam hati.
"Hm, jadi kamu menemukan Pil
dan Elixir di hutan itu. Ini sungguh
keberuntunganmu, Nak.
Keberuntungan bagi Keluarga
Rahngu kita," ujar Patriak Rahngu dengan gembira.
Sebelum Patriak Rahngu akan
melanjutkan pertanyaan lain, lelaki
tua ini menoleh ke arah Wahyu
Rahngu, tertegun sejenak sebelum
bertanya, "Kamu sudah menerobos?"
"Iya, Ayah. Ini berkat Wahna
yang memberiku sebuah Elixir,"
jawab Wahyu Rahngu dengan antusias.
Patriak Rahngu terdiam, silih
berganti antara memandang Wahna
dan Wahyu Rahngu. Pikirannya
campur aduk saat ini, ada dua
situasi yang berkecamuk di saat yang sama.
Patriak Rahngu berkata setelah
menghela napas, “Wahna, mungkin
aku harus menyampaikan ini,
setidaknya kamu tidak salah paham
terhadap Kakek dan semua pamanmu."
Melihat Wahna terdiam dengan
alis terangkat, Patriak Rahngu
melanjutkan, “Paman Pertama dan
Paman Keempat, sebenarnya
selama ini selalu mendesak Kakek
untuk mengambil sebagian
penghasilan mereka sebagai tetua keluarga.
Untuk apa? Untuk diserahkan
kepada ayahmu, Nak. Namun
ayahmu menolak dengan alasan ia
merasa tidak layak menerimanya."
Mendengar ini, Wahna sedikit
menoleh ke kanan, menatap
ayahnya yang tertunduk, ada rasa
hormat yang begitu dalam di hati Wahna.
Patriak Rahngu melanjutkan
lagi, “Selain itu, keluarga kita
mengalami kemunduran dalam dua
- tiga tahun terakhir. Sehingga sulit
untuk meningkatkan jumlah
sumber daya yang berkualitas
dalam meningkatkan kekuatan keluarga kita."
"Paman Ketigamu juga sama
dengan ayahmu. Semenjak dia
mengalami kemacetan di Tahap
Penyempurnaan Qi tingkat
Keenam, Paman Ketigamu itu tidak
ingin menerima sumber daya lebih.
Alasannya sama, yakni tidak ingin
membebani keluarga," imbuh
Patriak Rahngu, kembali menghela
napas panjang.
Mendengar apa yang dikatakan
kakeknya, Wahna merasakan
kehangatan akan keluarga. Ia tidak
menyangka, bahwa pamannya yang
terlihat acuh tak acuh, ternyata
selama ini sangat menyayangi ayahnya.
Hal ini membuat Wahna
semakin bertekad bulat, kekuatan
keluarga besarnya harus segera
ditingkatkan semaksimal mungkin.
"Apakah kemunduran keluarga
kita ada kaitannya dengan Keluarga
Dege?" tanya Wahna memastikan dugaannya.
Lagi, Patriak Rahngu menarik
napas panjang sebelum menjawab,
"Tidak dapat dipungkiri, ini
memang ada kaitannya dengan
Keluarga Dege.
Selain itu, kekuatan di belakang
Keluarga Dege adalah keluarga
kelas satu. Dan menurut informasi
yang Kakek dapatkan, kekuatan di
belakang Keluarga Dege ini juga
merupakan keluarga teratas di Kerajaan."
Hening sejenak, Patriak
Rahngu menambahkan, “Apalagi
sekarang, kekuatan Patriak Dege
sudah setengah langkah lagi
menuju Tahap Prajurit Alam. Maka
kita tidak bisa berbuat apa-apa
dengan tindakan arogansi mereka."
"Bagaimana dengan Tuan Kota,
Ayah?" Wahyu Rahngu bertanya.
"Haaah... Tuan Kota juga tidak
bisa berbuat apa-apa. Jabatannya
tergantung kepada Kepala Distrik.
Meskipun mendiang ayahnya
adalah adik seperguruanku, tapi
pengaruh keluarga kelas satu di
Distrik Nabrajem sangat besar,"
ungkap Patriak Rahngu, yang lagi-
lagi mendesah tak berdaya.
Wahna menyela, "Kakek
tenanglah! Suatu hari nanti, tidak
ada lagi yang akan mengganggu
atau menindas keluarga kita."
Belum sempat Patriak Rahngu
menanggapi, Wahna mengeluarkan
sesuatu yang mengejutkan, “Kakek,
aku memiliki ini. Manfaatkan
untuk meningkatkan kekuatanmu
dalam menerobos ke Tahap Prajurit Alam."
Dua rumpun Rumput Awan
Merah dan sebuah Pil Mida Bintang
Delapan, membuat Patriak Rahngu
melebarkan mata dengan tidak
percaya, “Ini Rumput Awan Merah?
Pil Mida Bintang Delapan? Ini
sangat langka."
"Cucuku, dari mana kamu
mendapatkan harta karun ini?"
seru Patriak Rahngu dengan suara
gemetar, menatap Wahna dengan
sejuta tanya di kepala.
Wahna tersenyum dan
menjawab dengan tenang, "Sudah
aku katakan sebelumnya, aku
mendapatkan keberuntungan."
Setelah mengatakan itu, Wahna
mengeluarkan enam rumpun
Rumput Awan Merah lagi, berkata
dengan ekspresi serius, “Kakek,
berikan ini kepada para pamanku,
masing-masing dua rumpun. Dalam
waktu singkat, mereka pasti akan
menerobos ke tingkat yang lebih tinggi."
Tidak bisa tidak, mulut Patriak
Rahngu ternganga lebar, menatap
jumlah elixir langka yang
dikeluarkan Wahna dengan santainya.
Patriak Rahngu telah berusia
sekitar dua ratus tahun, namun
hingga detik ini, dia belum pernah
menggunakan elixir langka seperti
yang ada di depan matanya.
Melihat bahwa semua benda
langka itu adalah untuk
keluarganya, yang diberikan oleh
cucunya sendiri, Patriak Rahngu
gemetar. Mata tuanya memerah,
menatap Wahna dengan rasa terima
kasih yang tak terkira.
"Wahna, terima kasih. Terima
kasih, Cucuku," kata Patriak
Rahngu, air matanya mengalir begitu saja.
Wahyu Rahngu menyela
dengan peringatan, "Ayah, jangan
sampai hal ini tersebar keluar.
Cukup kita yang tahu."
"Aku mengerti," sahut Patriak
Rahngu dengan sungguh-sungguh.
Sangat dipahami oleh Patriak
Rahngu, bahwa jika hal ini sampai
diketahui oleh pihak lain di luar
sana, maka bisa menyebabkan
bencana bagi keluarganya.
"Patriak, kabar buruk!
Rombongan Tuan Mistur diserang
bandit," lapor seorang penjaga
dengan tergesa-gesa.
Sontak suasana menjadi hening dan tegang.
"Apa? Dari mana kamu tahu?"
teriak Patriak Rahngu terkejut.
Dengan cepat penjaga itu
menjawab, "Salah satu penjaga yang
bersama Tuan Mistur ada di depan,
Patriak. Dan dia terluka parah."
Patriak Rahngu, Wahyu
Rahngu dan Wahna, segera
bergegas ke luar aula menuju
gerbang keluarga. Mendapati
seorang pria berusia sekitar tiga
puluh lima tahun, berlumuran
darah dan sedang dibantu oleh pelayan keluarga.
Melihat kehadiran Patriak
Rahngu, pria berlumur darah itu
melapor dengan terbata-bata,
"Patriak, Tuan Mistur sedang
bertarung di perbatasan Kota
Ragane. Kami disergap kawanan

Bersambung ke Bab 19

Bab 17 "Berapa konversi koin emas kePoin System? Lalu berapa PoinSystem yang dibutuhkan untukmeng-upgrade System?" Wahna...
05/03/2026

Bab 17

"Berapa konversi koin emas ke
Poin System? Lalu berapa Poin
System yang dibutuhkan untuk
meng-upgrade System?" Wahna
melanjutkan pertanyaannya.
System: "Ding, satu Poin System
sama dengan seribu koin emas.
Upgrade System ke versi dua adalah
seratus ribu Poin System."
'Aku hanya punya sekitar
delapan ribu koin emas, berarti
cuma delapan Poin System. Ah,
lupakan,'desah Wahna di dalam hati.
Namun ketika mendengar
jumlah Poin System untuk upgrade
System, matanya langsung
membelalak tak percaya.
"System, kenapa begitu mahal?
Apa kau ingin merampokku?”
Wahna menggerutu dengan tidak puas.
System: "Ding! Itu sudah
ketentuan untuk nilai Upgrade ke
versi dua, Tuan. Ketentuan tidak
bisa diganggu gugat."
Mendengar jawaban System,
Wahna hanya bisa menghela napas
panjang. Mungkin suatu hari nanti,
dia memiliki banyak Poin System
untuk melakukan upgrade.
Menghabiskan waktu dengan
berlatih penggunaan formasi array,
Wahna juga mengetahui berbagai
tingkatan formasi array. Yang
tentunya ia ketahui berdasarkan
pengetahuan dari buku usang di
dalam celah batu.
Dalam keahlian itu, formasi
array dibagi menjadi sepuluh
tingkatan. Yaitu Master Array,
Grandmaster Array, Scholar Array,
Accentor Array, Master Four Beast
Array, Halt Immortal Array,
Immortal Array, Fate calamity
Array, Saint Array dan Dewa Array.
Dan masing-masing dari
tingkatan itu, juga terbagi menjadi
sepuluh level kemampuan.
***
Keluarga Dege
"Bagaimana? Apa kamu sudah
memastikan kebenaran berita
tentang Wahna?" tanya Baimu Dege
kepada seorang telik sandi, mata-
mata yang diutusnya untuk
menyelidiki berita yang beredar.
"Berita itu benar, Tuan Muda,"
jawab pria telik sandi.
"Terus pantau pergerakannya!
Laporkan padaku setiap saat!"
perintah Baimu Dege dengan ekspresi kesal.
‘Bagaimana mungkin dia masih
hidup? Sangat jelas dia
dilemparkan ke jurang. Lalu,
bagaimana p**a kultivasinya
langsung meningkat?
Keberuntungan macam apa yang
didapat Bocah itu?' Baimu Dege
berpikir keras dengan wajah kusut.
dia bergegas menuju aula tamu
untuk menemui kakeknya.
Tiba di aula tamu, Baimu Dege
menyampaikan informasi yang
diperolehnya, “Kakek, Wahna
memang telah kembali. Dan semua
berita yang tersebar memang benar adanya."
"Anak itu mungkin mendapatkan keberuntungan.
Terus awasi! Ketika ada kesempatan
baik, Kakek akan membunuhnya,"
ujar Patriak Dege.
"Apakah Kakek akan
membunuhnya secara langsung?"
tanya Baimu Dege dengan tatapan ingin tahu.
"Bodoh! Tentu saja tidak! Kakek
akan menyewa Geng Harimau
Hitam untuk membunuhnya,"
lanjut sang Patriak.
***
Keluarga Rahngu
Pagi hari, keluarga kecil Wahna
bangun dengan suasana yang ceria.
Semua telah menerobos ke tingkat
yang lebih tinggi.
Meskipun sudah berada pada
tahap akhir, awalnya mereka
kesulitan untuk meningkatkan
kultivasi. Namun mengingat waktu
dan sedikitnya sumber daya,
mereka hanya bisa pasrah atas
kemacetan yang cukup lama.
Bagi Wahyu Rahngu, terobosan
ini merupakan hal yang paling
membahagiakan. Selain tingkat
kesulitan dari tingkat Keenam ke
tingkat Ketujuh, sumber daya
langka yang diberikan oleh
putranya, telah memberikan
peningkatan yang sangat luar biasa.
Bahkan terobosan Wahyu
Rahngu sudah mencapai tingkat
Ketujuh Puncak dari Tahap
Penyempurnaan Qi, dan itu hanya
dalam waktu satu malam saja.
Ayudiah juga tidak terkecuali.
Malahan, ibu Wahna ini telah
mencapai Tahap Penyempurnaan Qi
tingkat Kelima Menengah. Dan jika
berita ini tersebar, dipastikan bisa
menyebabkan kegemparan besar di Kota Ragane.
"Wahna! Apa kamu sudah
bangun?" panggil Wahyu Rahngu
sambil mengetuk pintu kamar putranya.
"Ayah! Tunggu sebentar," sahut
Wahna yang sedang berpakaian.
Setelah beberapa saat, Wahna
membuka pintu kamarnya. Tetapi
ia tertegun, mendapati ayahnya
berdiri di depan pintu sambil
melotot ke arahnya, seolah sedang melihat hantu.
"Wahna! Bagaimana
kultivasimu langsung ke Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat
Kedelapan?" tanya Wahyu Rahngu
dengan tidak percaya.
Jelas bagi Wahyu Rahngu,
sebelum hari ini, dan itu tepatnya
adalah tadi malam, kultivasi
putranya ini berada pada Tahap
Pembentukan Tubuh tingkat Kelima.
"Oh, kebetulan tadi malam aku
juga menerobos," jawab Wahna
sambil tersenyum, menggaruk
bagian belakang kepalanya sendiri.
Padahal, Wahna sudah
menanyakan hal ini kepada System
sebelumnya. Tubuh Naga Kuno
yang telah terbangun ke level
sepuluh adalah salah satu penyebabnya.
Di samping itu, berbagai tehnik
yang ia kuasai juga meningkat.
Sehingga Tehnik Pernapasan tidak
lagi memungkinkan untuk
menekan kultivasinya terlalu jauh.
Pun Tubuh Kekosongan, juga
terus menyerap energi alam secara
otomatis, yang menyebabkan
kekuatan tubuh Wahna terus
bertambah tanpa disadari.
System juga menjelaskan,
bahwa setelah Tehnik Pernapasan
mencapai Tingkat Kedelapan ke
atas, maka akan lebih efektif
menyembunyikan hingga sepuluh
tingkat. Sedangkan untuk saat ini,
maksimal hanya lima tingkat.
Dan karena penyesuaian
penggunaan, maka tingkat kultivasi
yang disembunyikan lebih dari lima
tingkat, akan muncul setiap tiga hari.
"Kebetulan? Memang ada
menerobos tiga tingkat adalah
kebetulan?" gumam Wahyu dengan
heran, tetap menatap putranya yang
tampak cengengesan.
Namun tidak dapat dipungkiri,
Wahyu Rahngu juga senang dengan
terobosan gila putranya itu. Dengan
usianya kali ini, putranya termasuk
dalam kategori jenius di Kota Ragane.
"Kita ke tempat kakekmu dulu,
Wahna. Agar kakekmu tidak
khawatir tentang keadaanmu
kemarin," ajak Wahyu Rahngu,
mendapat anggukan dari Wahna.
Ayah dan anak berjalan
berdampingan menuju aula utama
keluarga. Begitu tiba di aula utama,
keduanya melihat lelaki tua usia
tujuh puluhan tahun, tampak
sedang mondar-mandir dengan ekspresi cemas.

Bersambung ke bab 18

Bab 16 kualitas Menengah, lima puluh Palutingkat Bumi kualitas Menengah,empat puluh Pedang tingkat Bumikualitas Tinggi, ...
05/03/2026

Bab 16

kualitas Menengah, lima puluh Palu
tingkat Bumi kualitas Menengah,
empat puluh Pedang tingkat Bumi
kualitas Tinggi, satu pasang Belati
tingkat Bumi kualitas Tinggi, tiga
Baju Pelindung tingkat Bumi
kualitas Tinggi, satu Topeng
Siluman tingkat Dewa, satu Pedang
Surgawi tingkat Legendaris,
sembilan puluh lima Rumput Awan
Merah, dua ratus Kunyit Ungu, ....
Poin System: 60 Pts
Versi System: 1.0
Melihat profilenya, Wahna
tersenyum puas. Meskipun pada
namanya tersemat kata Rahngu saat
ini, hal itu tidak menjadi
pertanyaan baginya. Dia tahu,
bahwa itu adalah marga bagi keluarganya.
Masih penasaran sejak awal,
Wahna mengambil Topeng Siluman
dari Ruang Penyimpanan System.
Dia ingin tahu lebih banyak tentang benda aneh itu.
'System, bagaimana cara
menggunakan benda ini?' tanya
Wahna di benak, seraya
memandangi dan membolak-
balikkan Topeng Siluman di tangannya.
System: "Ding! Letakkan pada
wajah Tuan, kemudian pikirkan
seseorang yang pernah Tuan lihat sebelumnya."
Entah sadar atau tidak, Wahna
membayangkan wajah Baimu Dege,
sosok yang melumpuhkan kakinya
di Hutan Kematian.
Begitu Topeng Siluman
dikenakan, baik wajah, bentuk
tubuh, bahkan napas Wahna, saat
ini sangat identik dengan Baimu
Dege yang asli.
Mengambil cermin dari logam
kuningan di sebelahnya, Wahna
benar-benar dibuat terkejut atas
perubahan penampilannya sendiri.
Di dalam hati, ia tertawa dengan
penuh rencana yang bergulir di kepala.
"Aku akan membuatmu tak
bernyawa tanpa harus mati, Baimu
Dege," gumam Wahna sambil
melepas Topeng Siluman dari
wajahnya.
"System, ada berapa tingkatan
senjata di dunia ini? Mengapa aku
tidak dapat menemukan informasi
pada ingatan pemilik tubuh
sebelumnya? Bahkan tingkatan
keterampilan tidak begitu jelas,"
tanya Wahna kemudian, semakin
penasaran dengan dunia barunya.
System: "Ding! Tingkat senjata
di dunia ini terbagi menjadi tiga
tingkatan, Tuan. Yaitu Tingkat
Fana, Tingkat Bumi, dan Tingkat Surgawi."
System: "Ding! Setiap tingkatan
itu terbagi menjadi empat kualitas.
Yakni Kualitas Rendah, Kualitas
Menengah, Kualitas Tinggi, dan Kualitas Sempurna."
System: "Ding! Tingkat
Keterampilan atau Tehnik terbagi
menjadi empat tingkatan. Yaitu
Tingkat Fana, Tingkat Kuning,
Tingkat Bumi, dan Tingkat Surgawi."
System: “Ding! Setiap tingkatan
Tehnik terbagi menjadi empat
kualitas. Yaitu Kualitas Rendah,
Kualitas Menengah, Kualitas
Tinggi, dan terakhir Kualitas Teratas."
Wahna mengerutkan kening,
kembali bertanya, "Lalu,
bagaimana dengan Tingkat Dewa
pada Topeng Siluman ini? Dan
Tingkat Legendaris yang terdapat
pada Tehnik Pedang Surgawi?
Mengapa tidak menjadi bagian dari
tingkatan senjata atau keterampilan?"
System: "Ding! Tingkat Dewa
disebut juga tingkat Illahi, Tuan.
Tingkat ini adalah tingkatan yang
sangat sulit ditemukan."
System: "Ding! Senjata atau
Tehnik pada Tingkat Dewa harus
dibuat oleh penempa yang telah
memasuki Ranah Dewa. Sedangkan
Tingkat Legendaris, merupakan
tingkatan yang muncul karena
penciptaan alam semesta."
Mendengar yang terakhir,
Wahna semakin penasaran, “Oh,
apa kamu merupakan penciptaan
alam semesta, System?"
System: “Ding! Bukan, Tuan.
Namun hanya System yang dapat
memanggil sesuatu Tingkat
Legendaris untuk Tuan. Dan tentu
saja, semua itu tergantung dengan
Tuan memenuhi syarat atau tidak."
Wahna terdiam sejenak, ada
begitu banyak pertanyaan seputar
keberadaan System yang disebut
menyatu dengan jiwanya.
Namun Wahna menyingkirkan
segala tanya untuk sementara.
Dirinya percaya dan yakin, bahwa
Tuhan memberinya kehidupan
dengan System yang tertanam pada
jiwanya, tentu memiliki tujuan yang baik.
'Dengan bantuan System, aku
bisa menjadi lebih kuat. Semakin
kuat, maka semakin besar tanggung
jawabnya,'pikir Wahna dalam hati,
lalu bergumam dengan tangan
mengepal, “Tidak mungkin aku bisa
menghilangkan kejahatan, tapi
setidaknya aku bisa
menguranginya. Menjadi kuat
adalah keharusan, tapi menjadi
cerdas adalah mutlak."
Membulatkan tekad, Wahna
memberi instruksi kepada di
benaknya, 'System, kecuali Topeng
Siluman, Pedang Legendaris,
sepasang Belati dan Baju Pelindung.
Tukar semua senjata menjadi Poin System.
Kecuali Rumput Awan Merah
dan sepuluh Daun Tumpang
Lawang, tukar juga semua tanaman
obat menjadi Poin System.'
System: "Ding! Proses
penukaran sedang berlangsung."
System: "Ding! Selamat, Tuan.
Tuan memperoleh lima ribu empat
ratus tujuh puluh Poin System. Poin
System saat ini adalah lima ribu
lima ratus tiga puluh."
Tidak menunda, Wahna
langsung menekan tanda (+) di
belakang icon Naga Kuno satu kali.
System: "Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah 2/30.000. Poin
System berkurang dua ratus. Poin
System saat ini adalah lima ribu tiga
ratus tiga puluh."
Merasa kekuatan di dalam
tubuhnya bertambah, Wahna
menekan sekali lagi pada tanda (+).
System: “Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah 3/30.000. Poin
System berkurang dua ratu lima
puluh. Poin System saat ini adalah
lima ribu delapan puluh."
"Oh, jadi tiap level meningkat
lima puluh Poin System,” terka
Wahna setelah mengerti dengan
penggunaan Poin System, dan
langsung saja menekan tanda (+)
beberapa kali.
System: "Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah 4/30.000. Poin
System berkurang tiga ratus. Poin
System saat ini adalah empat ribu
tujuh ratus delapan puluh."
System: “Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah 5/30.000. Poin
System berkurang tiga ratus lima
puluh. Poin System saat ini adalah
empat ribu empat ratus tiga puluh."
System: "Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah...."
System: "Ding! Kekuatan Tubuh
Naga Kuno berhasil naik tingkat.
Level saat ini adalah 10/30.000. Poin
System berkurang enam ratus. Poin
System saat ini adalah seribu
sembilan ratus tiga puluh."
Wahna merasakan energi alam
di dalam tubuhnya berputar-putar,
kencang layaknya pusaran air yang
meresap ke sekujur tubuhnya.
Tulang, daging, dan ototnya,
kini tampak menjadi semakin alot.
Energi alam mengalir deras seperti
banjir bandang di seluruh pembuluh darahnya.
"Dengan level sepuluh Tubuh
Naga Kuno, maka aku lebih percaya
diri, bahwa dua tingkat di atasku
bukanlah lawanku," gumam Wahna dengan gembira.
Sambil menggeser panel
system, Wahna melihat ada bagian
icon yang masih berwarna abu-abu.
Ini menunjukkan bahwa pada icon
tersebut tidak aktif.
"System, mengapa ada icon
yang tidak aktif? Bagaimana cara
mengaktifkannya?" tanya Wahna
penasaran.
System: “Ding! Tuan harus
melakukan upgrade system terlebih
dahulu untuk mengaktifkan
beberapa icon."

Bersambung ke bab 17

Address

Siwalankerto Timur 1/105 Surabaya
Surabaya
60236

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ngawi.in posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to ngawi.in:

Share