GSKI Gading Serpong

GSKI Gading Serpong Melayani Orang tua adalah bukti cinta kita kepada Tuhan Menuntun Jiwa-jiwa untuk mempersiapkan memasuki Langit Baru dan Bumi Baru

https://youtu.be/O9KabjFYVKI
10/06/2021

https://youtu.be/O9KabjFYVKI

Dalam episode kali ini Team kami akan membagikan nasi kotak kepada anak-anak Jalanan yang berprofasi sebagai Pemulung, pengamen, peminta minta dllDalam pem...

Selamat siang... di info bahwa pada saat ini GSKI IMMANUEL Gading Serpong Ibadah minggu masih dengan livetreaming beersa...
03/06/2021

Selamat siang... di info bahwa pada saat ini GSKI IMMANUEL Gading Serpong Ibadah minggu masih dengan livetreaming beersama GSJA Kelapa Gading

15/03/2021

*Menjadi Terbesar di hadapan Allah.*
_Mat 18:1-5_

Mengapa para rasul bisa berjuang mati-2an utkk memenuhi panggilan Allah dlm diri mrk ? Bknkah pd awalnya, mrk berebut kedudukan di kerajaan Sorga & ingin menjadi yg terkemuka di antara para murid? Apalagi krn hal tsb mrk sampai bertengkar satu dgn yg lainnya.

Tetapi faktanya menjadi berbeda, tdk satupun dari antara mrk yg berkeadaan spt yg dimimpikan. Mrk tdk duduk di istana sbg pembesar di kerajaan sbg imam, berjubah ungu, & memiliki bnyk punggawa. Faktanya mrk hidup kelaparan, kehausan, telanjang, & hidup mengembara (1 Kor 4:9-13).

Fakta itu menggenapi apa yg Yesus katakan pd pertengkaran mrk : _“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yg terbesar di antara kamu hendaklah sbg yg *paling muda* & pemimpin sbg *pelayan*”_ (Luk 22:27). Yesus menekankan bhw terbesarnya mrk di hadapan Allah adlh ketika mrk _*menjadi hamba & pelayan*._

Yesus tlh menjadi teladan bg mrk bgmn memahami arti menjadi yg terbesar di hadapan Allah. Dgn rela menjadi hamba hingga mati di kayu salib, _*Ia buktikan dgn penderitaan dari Getsemani hingga bukit Golgota*._

Bila seorg murid tdk akan melebihi gurunya (Mat 10:24), mk tidak heran para rasul _memilih akhir hidup yg sama dgn Gurunya_. Yaitu dgn rela menjadi hamba hingga mati menderita:

1. Matius dibunuh dgn pedang setelah disiksa terlebih dahulu.
2. Yakobus anak Zebedeus, meninggal krn dipenggal di Jerusalem.
3. Petrus meninggal dgn cara disalibkan terbalik dgn kepala menghadap kebawah, krn merasa tdk layak disalibkan spt Yesus Kristus.
4. Yohanes adlh satu-2nya Rasul yg meninggal krn lanjut usia, walaupun dia sempat dihukum mati dgn cara direndam dlm minyak mendidih.

5. Yakobus anak Alpheus, meninggal dgn cara dilemparkan dari bubungan Bait Allah, ditempat yg sama dimana setan mencobai Yesus Kristus.
6. Bartolomeus yg dikenal sbg Natanael meninggal di Armenia krn dihukum cambuk sampai semua kulitnya hancur & terlepas.
7. Andreas meninggal dgn cara disalib spt Petrus di Yunani.
8. Thomas, yg sblmnya ragu akan Yesus bangkit; meninggal krn dihujani tombak, sblmnya dia sempat dilempar ke dlm perapian, ia menemui ajalnya di India.

9. Matias, yg mrpk Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal krn dihukum rajam & akhirnya dipenggal kepalanya
10. Yudas (bkn Yudas Iskariot), jg sering disebut sbg Yudas Thaddeus, meninggal krn disalibkan.
11. Simon orang Zealot (berbeda dgn Simon Petrus), meninggal krn disalibkan.
12. Filipus, meninggal krn disalibkan.

_Apa yg tidak terpandang & yg hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yg tidak berarti, dipilih Allah utk meniadakan apa yg berarti_ (1 Kor 2:8). Pilihan para rasul tlh membuktikan bhw mrk *menjadi yg terbesar di hadapan Allah.*

13/03/2021

*Bagi Allah Tidak ada Yg Mustahil (5)*
_Matius 19:26_

Yesus memandang mrk & berkata: _“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”_

Dgn kita menyadari bhw kalimat _bagi Allah tidak ada yg mustahil_ bkn berkaitan langsung dgn _*hal-2 materi,*_ melainkan berkenaan dgn *keselamatan jiwa* dalam memperoleh kehidupan kekal. Maka kita bisa memahami bilamana terjadi _ajaran penyimpangan._

Atas fenomena saat ini, di mana telah terjadi penyimpangan pengajaran hamba Tuhan di dlm gereja yg salah satunya _*memaksakan arti*_ kalimat bagi Allah tidak ada yg mustahil kpd hal-2 yg materi, maka kita harus bersikap bijaksana.

Adlh baik, jika kita tidak menghujat secara langsung nama-2 hamba Tuhan itu di muka umum dgn sengaja menjatuhkan martabat & kehidupannya. Ketika kita tahu bhw apa yg diajarkannya hanya bersifat _*motivasi & berkat jasmani,*_ maka tdk elok jika hal tsb menjadi bahan perdebatan di antara org Kristen yg setuju & tidak di muka umum atau media sosial. Sbb pada akhirnya yg dirugikan adlh _integritas, nama baik kekristenan & Tuhan didukakan._

Kalau ajaran mrk _tidak bertentangan_ dgn moral umum & kesucian Allah, kita bisa mengambil kebenarannya & melakukannya, ttp jika yg diajarkan bertentangan dgn kebenaran Alkitab kita _tidak patut menurutinya._ Apalagi mereka yg menjadi pengajar & pengkhotbah bila terbukti memiliki penyimpangan kehidupan moral & tidak menjadi teladan, maka kita _*tegas tidak menurutinya.*_

Tuhan Yesus sendiri menasihati kpd org-2 percaya utk memiliki sikap bijaksana thdp mrk dgn berkata : _“Sbb itu turutilah & lakukanlah segala sesuatu yg mereka ajarkan kpdmu, tetapi _*jgnlah kamu turuti perbuatan-2*_ _mereka, krn mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”_ (Matius 23:3).

Dan perkataan Yesus ini menunjukkan bhw kita hrs menghormati & menjunjung tinggi kebenaran, tetapi _*jauh lebih baik*_ adlh menjadi pelaku & teladan. Dgn mengerti ini maka kita memahami maksud Yesus datang dgn membawa kebenaran & kerajaan Allah.

Dgn demikian kita sdh bisa benar-2 memahami arti kalimat _*bagi Allah tidak ada yg mustahil*_ yg berkenaan dgn *keselamatan jiwa;* sembari terus _menghidupinya kita juga wajib meluruskannya._

10/03/2021

*Bagi Allah Tidak ada Yg Mustahil (3)*
_Matius 19:26_

Yesus memandang mrk & berkata: _“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”_

Kematian & penebusan Kristus, telah memperdamaikan segala sesuatu dgn Allah. Baik yg ada di bumi, maupun yg ada di Sorga telah diperdamaian oleh darah salib Kristus (Kol 1:20). Sehingga tatkala manusia yg hidup jauh dari Allah krn dosa sekarang tlh ditebus menjadi dekat & Allah berkenan hadir di tengah umat-Nya (Kol 1:23-29). Inilah _*karya Allah yg terbesar, sbb bg Allah tidak ada yg mustahil.*_

Yesus menjadi Imam Besar yg berarti Dia menjadi _satu-2nya perantara_ antara manusia dgn Allah. Setiap org yg tlh ditebus dpt memanggil Dia, Bapa & kita bisa menghadap langsung kpd-Nya.

Adlh kebodohan yg _akut,_ bila seseorg masih mengharapkan didoakan pendeta atau gembalanya yg dipercayai sbgi perantara kpd Allah. Padahal seorg yg ditebus Kristus telah menjadikan Yesus sbgi perantara satu-2nya dgn Allah Bapa.

Ironisnya, pendeta atau gembala yg merasa sbgi tokoh yg dikhususkan seringkali _memposisikan diri mereka sebagai wakil Tuhan._ Jemaat digiring utk percaya bhw doa-2 mrk _sakti & pasti di dengar Tuhan_ sehingga jemaat bisa mengkultuskan pendeta atau gembala ini. Dan kalau sdh demikian, maka akan _*bnyk keuntungan*_ yg bisa diperoleh pendeta atau gembala yg melakukan hal ini, dlm hal ini adlh materi atau uang.

Coba renungkan dgn rendah hati; bila seorang dokter yg terpelajar masih percaya penumpangan tangan adlh jalan satu-2nya kesembuhan, maka apa artinya ia bersekolah tinggi utk belajar ilmu kedokteran? Betapa bodohnya jika seorg professional yg memiliki kecakapan dlm ilmu & skil hrs percaya seorg pendeta yg sesungguhnya _malas, tidak produktif & bodoh_ hanya karena percaya akan doa-2nya.

Ironis sekali bila seorang pelajar & mahasiswa percaya doa pendeta bisa membuatnya lulus tanpa harus belajar yg giat. Lagi2 pembodohan, jika seorang karyawan atau bisnisman percaya akan diberkati berlipat ganda hanya krn membawa amplop persembahan & mengangkat tinggi-2 saat ibadah dgn berani berkata : _*“Memiutangi Tuhan!”,*_ seakan-2 Tuhan haus akan persembahannya & Tuhan berkewajiban memberkati berlipat kali ganda. _Gila!_ inilah penyesatan di dlm gereja. Mrk tidak menyadari bhw Tuhan lah yg menciptakan mrk & kalau kita hidup tentu krn anugrah-Nya semata.

Kini saatnya kita sadar akan kesalahan kita & meredefinisi ulang arti sesungguhnya kalimat _“bagi Allah tidak ada yang mustahil.”_ Dgn demikian kita pasti memahami arti _keselamatan yg sesungguhnya._

09/03/2021

*Kematian-Nya awal Kemuliaan* _Mat 17:1-13_

Bersama murid-2 terkemuka yaitu Petrus, Yakobus & Yohanes, Yesus mengajak mrk utk naik ke sebuah gunung yg tinggi. Di sana mrk di ajak berdoa (Luk 9:29), tetapi mrk tertidur (Luk 9:32).

Dan ketika mrk terbangun, mrk melihat Yesus nyata dlm kemuliaan; rupa & wajah-Nya bercahaya serta pakaiannya menjadi putih berkilau-2an. Mrk melihat Yesus berbicara dgn Musa & Elia.

Menjadi perhatian kita, bhw ada pesan penting dari peristiwa Yesus bersama Musa & Elia:
1. Musa adlh Bapak bangsa Israel yg memberikan hukum Taurat di gunung Sinai & krn dia, Israel menjadi sebuah *bangsa yg otonom berlandaskan hukum syariah Taurat hingga saat ini.* Musa mati, tetapi tdk satupun org Israel yg tahu kuburnya (Ul 34:5-6).
2. Elia adlh Nabi perkasa yg tlh melawan nabi-2 Baal dari dewa & bangsa yg tidak mengenal Allah. Ia bnyk melakukan perkara & mujizat yg hebat. *Elia diakui sbg pahlawan bangsa Israel & dikenang turun-temurun.* Elia tidak mati, tetapi ia terangkat ke Sorga dgn kereta kuda berapi (2 Raja-raja 2:11)
3. Keberadaan Musa & Elia menjadi misteri namun mulia. Tetapi kemuliaan mrk tdk akan tergenapi sempurna jika Yesus tdk mati utk menebus dosa semua manusia (termasuk Elia & Musa). Itu sbbnya Yesus hrs menderita, dihinakan sampai mati (Mar 9:12). *Tanpa kematian Yesus tidak ada satupun manusia yg bisa dimuliakan di Sorga.*

Kehormatan & kemuliaan Musa & Elia sbg nenek moyang di mata bangsa Israel tdk akan tergenapi tanpa kebangkitan Yesus mengalahkan kuasa maut yaitu kematian. Itulah sbbnya Yesus berpesan kpd para murid yg melihat peristiwa ini utk tdk menceritakan kpd siapapun *sampai Anak Manusia dibangkitkan dari antara org mati* (Mat 17:9).

Pesan Yesus ini menjadi penting utk dirahasiakan, spy tdk tersiar kpd bnyk org krn Ia telah bersama Musa & Elia, bapa bangsa Israel; jika hal ini diketahui mrk pasti memaksa menjadikan Yesus sbg raja dunia (Yoh 6:15).

Musa & Elia berbicara kpd Yesus memberi penghiburan & kekuatan spy Yesus menang menjalani penderitaan, kehinaan & kematian. Sbb tanpa kebangkitan Yesus, Musa & Elia tidak layak di hadapan Allah. Kematian-Nya di Salib merupakan awal dari kemuliaan Allah.

15/02/2021

*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
14 February 2021

*TUJUH PULUH KALI TUJUH*

Sejak narasi kejatuhan manusia dalam dosa pada Kejadian 3, kita dapat melihat bahwa manusia mulai memiliki dirinya dan tidak hidup di bawah pemerintahan Allah. Dalam Kejadian 4, kita melihat terjadi pembunuhan terhadap Habel. Pembunuhan tersebut sebenarnya bisa dikatakan pembunuhan yang jumlahnya besar. bukan secara angka, melainkan rasio, dengan jumlah penduduk yang waktu itu baru ada 4 orang. Pembunuhan Habel merupakan pembunuhan dari seperempat penduduk bumi. Kendati Kain sudah berbuat dosa dengan melakukan pembunuhan, tapi Allah masih memberikan perlindungan terhadapnya berupa ancaman bagi orang yang membunuh Kain, yaitu pembalasan sebanyak 70 kali lipat. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar orang jangan membunuh Kain. Dikhawatirkan ada manusia dari keturunan Adam yang lain bisa dendam terhadap kejahatan yang dilakukan Kain, mengingat banyaknya keturunan Adam yang dapat direproduksi pada masa itu. Jika dipertanyakan, “mengapa Allah memproteksi Kain?” Hal ini dapat dijawab karena itu adalah kejahatan pertama yang dilakukan manusia. *Saat itu manusia belum mengerti banyak tentang kasih dan perlindungan terhadap sesama.*

Setelah kisah pembunuhan tersebut, kejatuhan manusia dalam dosa terus-menerus dicerminkan dalam teks-teks berikutnya. Adapun Lamekh, keturunan Kain, dalam keangkuhan berkata: _“Jika Kain harus dibalaskan 70 kali lipat, maka Lamekh 70 x 7 lipat.”_ Dalam bahasa Inggris, ungkapan ini dapat memiliki makna yang sama dengan 70 kali 7 kali seperti yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam mengampuni orang lain. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 kali 7 dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Hal ini digambarkan dalam kalimat: _“Ampunilah kami akan kesalahan kami; bebaskan kami dari utang kami, seperti kami membebaskan utang orang yang berutang kepada kami.”_ Tuhan memberikan standar untuk orang percaya sebagai kebalikan dari ambisi Lamekh dalam kebenciannya. Dalam kebiasaan orang Yahudi, mereka biasa memberikan pengampunan 3 kali, tetapi Petrus mencoba mengemukakan sesuatu yang menurutnya luar biasa, yakni 7 kali. Menanggapi hal ini, Tuhan berkata bahwa 7 kali juga tidak cukup. Harus 70 dikali 7 kali. Kebenaran Firman Tuhan ini merupakan _antitesis_ atau pembanding dari apa yang dikatakan oleh Lamekh. Ini mengarahkan kita bahwa Allah hendak mengembalikan manusia ke rancangan semula, yakni *manusia yang memiliki hati pengampunan yang luas seperti Tuhan sendiri.*

Ketika seseorang berani berkata bahwa ia percaya kepada Yesus, hal ini menunjukkan bahwa ia harus berani melakukan apa yang Yesus lakukan. *Kepercayaan terhadap Tuhan harus ditunjukkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan bibir saja.* Dalam hal ini, orang percaya dituntut Tuhan untuk memiliki hati mengampuni seperti yang ada pada Tuhan. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak mampu untuk melakukan hal ini. Namun sebenarnya, ketika seseorang berhasil mengampuni sesamanya, maka ia akan naik ke level berikutnya. *Semakin sering kita mengampuni, maka akan semakin tinggi kapasitas pengampunan yang dapat kita berikan*. Dalam hal ini, memang terdapat unsur pembiasaan atau latihan yang harus dijalani orang percaya. Hati yang mengasihi tidak dapat diberikan secara otomatis hanya karena seseorang percaya kepada Yesus. Setelah percaya kepada Yesus, ia harus memberi dirinya dilatih oleh Tuhan untuk memiliki hati seperti-Nya.

Yesus berkata dalam Matius 18:35, _“Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”_ Dari kalimat ini, kita dapat menangkap kualitas pengampunan yang dikehendaki Tuhan untuk dimiliki orang percaya. *Jika kita mengaku mengampuni orang, apakah pengampunan tersebut telah diberikan dengan segenap hati?* Pembunuhan dan kebencian adalah karakter yang menonjol setelah manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 dikali 7 kali dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Kualitas pengampunan yang diingini Tuhan adalah kualitas pengampunan yang penuh. Dengan demikian, berlaku prinsip *“bukan seberapa besar kita telah mengampuni seseorang, tetapi bagian kecil mana yang masih kita sisakan untuk menaruh perasaan benci?”* Tuhan menghendaki kita untuk memberi pengampunan secara total, seperti yang diungkapkan dengan istilah “tujuh puluh dikali tujuh kali.”

*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
15 February 2021

*RELASI PENGAMPUNAN DAN PERBUATAN KASIH*

Dalam Lukas 7:36-46, terdapat sebuah kisah yang menunjukkan relasi antara “pengampunan” dan “perbuatan kasih.” Kisah tersebut bercerita mengenai seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang dan makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu dan duduk makan bersama mereka. Kemudian ada seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa. Ungkapan ‘orang berdosa’ di sini merupakan sebuah bentuk sebutan yang dihaluskan untuk merujuk pada wanita tunasusila. Dalam Lukas 7:37-38 dituliskan, _“Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”_ Minyak yang digunakan dalam kisah ini adalah minyak narwastu dan bukan dari Timur Tengah, melainkan datang dari India. Minyak ini dapat digolongkan sebagai barang mewah. Ketika perempuan tersebut meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak tersebut, sebenarnya perempuan tersebut mempertaruhkan harga diri, nama baik, dan uangnya.

Kisah tersebut kemudian berlanjut demikian: _“Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.’”_ (Luk. 7:39-46).

Perlu diketahui, tradisi pada masa itu adalah jika ada orang yang dianggap penting datang ke rumah salah satu keluarga, maka tuan rumah akan membasuh kakinya lalu memercikkan minyak wangi. Tuhan membandingkan perlakuan orang Farisi tersebut dengan wanita ini. Orang Farisi itu tidak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, sedangkan perempuan itu mencuci kaki-Nya dengan air mata dan menyeka-Nya dengan rambutnya. Rambut merupakan mahkota perempuan, yang pada waktu itu biasanya terurai dan ditutup. Pada masa itu, rambut yang terurai dan tidak dikepang merupakan simbol dari seorang perempuan santun. Sebaliknya, perempuan yang mengepang-ngepang rambutnya adalah wanita yang tidak baik atau tunasusila. Oleh karenanya, dengan mengurai rambutnya, sebenarnya perempuan ini menunjukkan bahwa ia telah berhenti berbuat dosa.

Narasi ini mencapai klimaksnya ketika sampai di Lukas 7:47, _“Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.”_ Pengampunan yang diberikan ini disebabkan oleh karena perbuatan kasihnya kepada Yesus. Tuhan tidak akan memberikan pengampunan kepada orang yang tidak memiliki kasih kepada sesamanya. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat kasih kepada sesamanya, sesungguhnya dosanya yang banyak diampuni oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak merusak prinsip “keselamatan hanya oleh anugerah.” *Keselamatan dan pengampunan hanya hadir karena Yesus, namun perbuatan kasih yang ditunjukkan oleh seseorang mencerminkan bagaimana keadaannya yang mengasihi orang lain.* Orang yang mengasihi orang lain menunjukkan bahwa dirinya telah melepaskan dosanya dan berdamai dengan Allah. Sebab, sesungguhnya apa yang dilakukan seseorang demi sesamanya juga dilakukan untuk Allah. Orang jahat tidak akan memeroleh pengampunan. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, tetapi orang jahat yang diampuni dan tidak mau berubah akan kehilangan kesempatan. Sejahat apa pun seseorang akan diampuni. Tapi setelah diampuni, ia harus bertobat dan tidak berbuat jahat lagi.

*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
16 February 2021

*DISELAMATKAN DALAM KASIH*

Masih dalam kisah perempuan berdosa yang datang kepada Yesus, kita dapat menemukan kebenaran bahwa seseorang yang menerima pengampunan harus memiliki moral dan keberadaan karakter seperti Tuhan. Pengampunan yang diterima oleh orang percaya memang diterima secara cuma-cuma dan bukan karena perbuatan baik. Akan tetapi, *orang yang diampuni pasti akan mengasihi sesamanya karena ia sadar bahwa ia adalah orang yang beroleh pengampunan.* Ia mengampuni bukan karena takut tidak diampuni oleh Tuhan, sebab ini standar yang sangat rendah. Ia mengampuni orang lain karena ia telah menerima pengampunan dan keberadaan serta karakternya diubah oleh Tuhan sehingga dapat menerima orang lain. Dengan kalimat lain, ia tidak bisa tidak mengampuni orang lain karena karakternya adalah karakter anak Allah.

Untuk sampai pada tahap mengampuni orang lain karena karakter yang diubahkan, seseorang harus bertumbuh dalam kebenaran. Roma 10:17 menyatakan bahwa iman seseorang timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Iman merupakan penurutan akan kehendak Allah. Dalam konteks ini, kehendak Allah adalah mengubah manusia yang memiliki keberadaan meleset menjadi sempurna. Oleh karenanya dibutuhkan sarana, yakni Firman atau kebenaran. *Kebenaran yang selalu didengar dan mewarnai nurani akan mengubah moralitas dan karakter seseorang*. Jika terus diasup dan dipraktikkan secara konsisten, maka kebenaran tersebut akan berbuah. Buah dari kebenaran yang didengar dan dipraktikkan adalah kehidupan seperti Kristus. Kehidupan seperti Kristus inilah yang membuat seseorang dapat berada dalam kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Allah. Ia memiliki standar moral di atas manusia lainnya dengan nurani yang telah diubahkan oleh kebenaran.

Perjumpaan dengan kebenaran ini harus disambung senantiasa dalam perjumpaan dengan Tuhan. Setiap kita harus menyediakan waktu untuk bermeditasi secara pribadi dengan-Nya. Sebab, dalam perjumpaan dengan Allah secara pribadi, kita dapat merasakan getar perasaan-Nya. Kita dapat memeroleh impartasi dari hadirat dan hati Allah sendiri. Jika orang yang bergumul dengan kuasa gelap bisa memeroleh ‘impartasi’ dari perjumpaannya dengan sosok kuasa gelap tersebut, maka bukan tidak mungkin kita bisa memeroleh perasaan Allah ketika menyediakan waktu berjumpa dengan-Nya. Hal ini sangat dibutuhkan, di samping kita berlama-lama membaca dan menerima pengetahuan tentang Allah. *Tidak ada orang yang lebih beruntung ketimbang orang yang berjumpa dengan Allah secara pribadi*. Ia bukan hanya mengetahui tentang Allah, tetapi ia dapat mengalami Allah sendiri. Melalui pengalaman nyata dengan Allah, kita dapat merasakan bagaimana perasaan Allah ketika berhadapan dengan kita yang rapuh ini. Secara tidak langsung, kita akan mampu mencerminkan perasaan belas kasih dan kemurahan pada orang lain yang bersalah kepada kita.

Perempuan berdosa yang datang kepada Tuhan diampuni karena ia mengasihi Tuhan secara luar biasa. Ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan orang pada umumnya, bahkan dapat dikatakan bahwa ia menerobos batas. Namun, *tindakannya mengurapi Tuhan dengan minyak dan air mata serta menyeka dengan rambutnya, menunjukkan bahwa ia tinggal dalam kasih.* Tidak heran jika Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dosanya telah diampuni sebab ia telah banyak berbuat kasih. Ia diampuni karena keberadaannya yang diubahkan oleh Tuhan. Tindakannya mencerminkan bahwa dirinya melakukan suatu pertobatan radikal dengan mencerminkannya melalui tindakan nyata.

Orang-orang semacam ini menunjukkan bahwa dirinya memiliki moral dan keberadaan karakter yang dikehendaki oleh Tuhan. Hendaknya, kita juga menunjukkan pengampunan kepada sesama berangkat dari moral dan keberadaan karakter yang diubah oleh Tuhan. Bukan sekadar takut tidak diampuni oleh Tuhan, melainkan tidak bisa tidak melakukan tindakan kasih, yakni mengampuni karena perubahan karakter yang kita alami. Jadi, sebelum kesempatan hidup yang Tuhan berikan ini berlalu dan kita akan kehilangan selama-lamanya, kita harus mau berubah. *Tuhan pasti akan proses kita dengan banyak kejadian sampai kita bisa memiliki hati yang tidak bisa tidak mengampuni orang.*

25/01/2021

*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
26 Januari 2021

*MENJEBAK DIRI SENDIRI*

Kita harus berani menjebak diri kita sendiri atau menyulitkan diri kita sendiri demi keselamatan kekal. Maksudnya adalah kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita harus berani berkomitmen meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya; kita harus berani berkomitmen untuk menyerahkan seluruh hidup kita tanpa batas untuk kepentingan Kerajaan Surga, yang itu semua dirangkum dengan kalimat: *tidak minta apa pun dari Tuhan kecuali berkenan pada-Nya.* Sebenarnya, ada kerinduan itu dalam hati kita. Hanya, sering kali tidak kita kobarkan sehingga tenggelam dengan berbagai kesenangan, keinginan, hasrat yang hilir mudik dalam pikiran kita, dan kadang-kadang tersangkut sehingga akhirnya kita bisa terjebak pada keinginan-keinginan dunia atau bahkan dosa-dosa.

*Supaya kita tidak terjebak dengan dosa-dosa dan keinginan-keinginan dunia tersebut, kita menjebak diri kita dengan komitmen*. Kita harus berani berkomitmen. Memang kita harus berhati-hati kalau mengucapkan nazar. Ini bukan sesuatu yang murahan, ini prinsip. Misalnya kalau kita bernazar, “Kalau nanti aku selesai kuliah, aku mau menjadi pendeta,” atau “Nanti kalau bisnis ini berhasil, aku persembahkan sekian persen untuk gereja.” Sebaiknya, kita tidak usah bernazar seperti begitu. Nazar kita bukan begitu. Dalam hal ini, kita akan menggunakan kata “komitmen, janji.” Kita membuat perjanjian dengan Allah bahwa *aku mau hidup tidak bercacat, tidak bercela*, walaupun sebenarnya kita berkeadaan belum mampu melakukannya. Tapi Tuhan akan memberikan kemampuan. _Yang kedua_, *aku memindahkan hati ke langit baru bumi baru, aku tinggalkan percintaan dunia.* _Yang ketiga,_ *aku mau sungguh-sungguh hidup untuk kepentingan Tuhan.*

Dengan komitmen ini, kita baru bisa memindahkan hati kita ke Kerajaan Surga, dan ini standar karena Yesus sendiri berkata bahwa kita tidak berasal dari dunia ini. Kesediaan kita menjebak diri kita sendiri sebenarnya seperti seorang yang membawa diri ke satu mezbah untuk dikurbankan. Seperti domba yang dibawa ke sebuah mezbah kurban, dipotong-potong, dibakar habis seluruhnya, harus berani. Saya kira orang-orang yang memberi diri menjadi relawan ke Suriah, menjadi tentara atau milisi ISIS itu ada juga yang ragu-ragu, tetapi dia menguatkan hatinya, dia meneguhkan hatinya, lalu dia mau tidak mau harus pergi. Ketika dia sampai di Suriah, dia harus berani mempertaruhkan semuanya.

Untuk indoktrinasi seperti itu, orang bisa nekat. Saya tidak katakan itu salah atau benar, itu bukan urusan saya untuk menilai. Tapi yang saya lihat, komitmennya—bukan tidak mungkin—sempat mengalami keraguan. Tetapi ketika dia terus menguatkan komitmennya, jadilah langkah itu. Demikian p**a kita. Mungkin ada keraguan, tetapi pilihan ini adalah pilihan luar biasa. Tidak akan pernah disesali karena ini menyangkut kekekalan.

Seorang hamba Tuhan berdoa suatu hari, “aku berjanji tidak minta apa-apa selain menjadi anak kesukaan-Mu.” Ketika dia mengatakan itu, ada keraguan, tetapi tidak ada pilihan lain. Ini adalah pilihan yang sangat menguntungkan untuk hidup kekal dan harta surgawi yang tiada tara. Ketika hamba Tuhan itu menetapkan hatinya demikian, dia menjebak dirinya, dia menjerumuskan dirinya pada wilayah komitmen yang berat. Hidup ini hanya sekali. Mengapa kita tidak berani berkomitmen untuk nilai-nilai kekekalan.

Jangan seperti orang kaya di Lukas 19 yang ketika mendengar syarat mengikuti Yesus adalah menjual segala miliknya dan membagikannya ke orang miskin, dia pergi dengan sedih, sebab kata firman Tuhan, hartanya banyak. Ingat, bukan sebab dia tidak ditentukan selamat, melainkan hartanya banyak. Dia memilih untuk mencintai hartanya. Itu masalahnya. Beda dengan Zakheus. Dia menyambut Yesus datang ke rumahnya, dia memberi separuh hartanya pada orang miskin, dan jika ada orang yang pernah dia peras, dia kembalikan 4 kali lipat. Yesus berkata, “keselamatan terjadi atas rumah ini.” Kalau Zakheus tidak melangkah melepaskan kekayaannya, maka tidak terjadi keselamatan atas hidup Zakheus dan keluarganya.

Saya mengerti, kalau orang sudah kaya berlimpah, asetnya bisa ratusan milyar, sulit. Apalagi itu dicari dengan susah payah. Ini dikatakan bukan supaya kita memberikan uang ke gereja. kita harus minta hikmat Tuhan dalam mengelola kehidupan kita. Yang hendak disampaikan dalam kebenaran ini agar kita sungguh-sungguh memperhatikan, apakah kita ini telah memilih apa yang tepat untuk jiwa kita. Yesus menangisi Yerusalem. Dia berkata, _“betapa baiknya kamu kalau kamu tahu apa yang bisa mendatangkan sejahtera bagi kamu. Aku mencoba mengumpulkan kamu seperti induk ayam mengumpulkan anak anaknya, tetapi kamu tidak mau.”_ Itu ditulis di Lukas 23:37.

Jangan sampai tidak mau, menolak, dan akhirnya binasa. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Ini prinsip. Tetapi, *kalau seseorang tidak mau menerima anugerah, tidak merespons anugerah secara patut, dia tidak akan menerima dan memiliki keselamatan itu*.

Address

Tangerang
97753

Opening Hours

Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 12:00

Telephone

+6281289968975

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GSKI Gading Serpong posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to GSKI Gading Serpong:

Share