15/02/2021
*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
14 February 2021
*TUJUH PULUH KALI TUJUH*
Sejak narasi kejatuhan manusia dalam dosa pada Kejadian 3, kita dapat melihat bahwa manusia mulai memiliki dirinya dan tidak hidup di bawah pemerintahan Allah. Dalam Kejadian 4, kita melihat terjadi pembunuhan terhadap Habel. Pembunuhan tersebut sebenarnya bisa dikatakan pembunuhan yang jumlahnya besar. bukan secara angka, melainkan rasio, dengan jumlah penduduk yang waktu itu baru ada 4 orang. Pembunuhan Habel merupakan pembunuhan dari seperempat penduduk bumi. Kendati Kain sudah berbuat dosa dengan melakukan pembunuhan, tapi Allah masih memberikan perlindungan terhadapnya berupa ancaman bagi orang yang membunuh Kain, yaitu pembalasan sebanyak 70 kali lipat. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar orang jangan membunuh Kain. Dikhawatirkan ada manusia dari keturunan Adam yang lain bisa dendam terhadap kejahatan yang dilakukan Kain, mengingat banyaknya keturunan Adam yang dapat direproduksi pada masa itu. Jika dipertanyakan, “mengapa Allah memproteksi Kain?” Hal ini dapat dijawab karena itu adalah kejahatan pertama yang dilakukan manusia. *Saat itu manusia belum mengerti banyak tentang kasih dan perlindungan terhadap sesama.*
Setelah kisah pembunuhan tersebut, kejatuhan manusia dalam dosa terus-menerus dicerminkan dalam teks-teks berikutnya. Adapun Lamekh, keturunan Kain, dalam keangkuhan berkata: _“Jika Kain harus dibalaskan 70 kali lipat, maka Lamekh 70 x 7 lipat.”_ Dalam bahasa Inggris, ungkapan ini dapat memiliki makna yang sama dengan 70 kali 7 kali seperti yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam mengampuni orang lain. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 kali 7 dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Hal ini digambarkan dalam kalimat: _“Ampunilah kami akan kesalahan kami; bebaskan kami dari utang kami, seperti kami membebaskan utang orang yang berutang kepada kami.”_ Tuhan memberikan standar untuk orang percaya sebagai kebalikan dari ambisi Lamekh dalam kebenciannya. Dalam kebiasaan orang Yahudi, mereka biasa memberikan pengampunan 3 kali, tetapi Petrus mencoba mengemukakan sesuatu yang menurutnya luar biasa, yakni 7 kali. Menanggapi hal ini, Tuhan berkata bahwa 7 kali juga tidak cukup. Harus 70 dikali 7 kali. Kebenaran Firman Tuhan ini merupakan _antitesis_ atau pembanding dari apa yang dikatakan oleh Lamekh. Ini mengarahkan kita bahwa Allah hendak mengembalikan manusia ke rancangan semula, yakni *manusia yang memiliki hati pengampunan yang luas seperti Tuhan sendiri.*
Ketika seseorang berani berkata bahwa ia percaya kepada Yesus, hal ini menunjukkan bahwa ia harus berani melakukan apa yang Yesus lakukan. *Kepercayaan terhadap Tuhan harus ditunjukkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan bibir saja.* Dalam hal ini, orang percaya dituntut Tuhan untuk memiliki hati mengampuni seperti yang ada pada Tuhan. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak mampu untuk melakukan hal ini. Namun sebenarnya, ketika seseorang berhasil mengampuni sesamanya, maka ia akan naik ke level berikutnya. *Semakin sering kita mengampuni, maka akan semakin tinggi kapasitas pengampunan yang dapat kita berikan*. Dalam hal ini, memang terdapat unsur pembiasaan atau latihan yang harus dijalani orang percaya. Hati yang mengasihi tidak dapat diberikan secara otomatis hanya karena seseorang percaya kepada Yesus. Setelah percaya kepada Yesus, ia harus memberi dirinya dilatih oleh Tuhan untuk memiliki hati seperti-Nya.
Yesus berkata dalam Matius 18:35, _“Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”_ Dari kalimat ini, kita dapat menangkap kualitas pengampunan yang dikehendaki Tuhan untuk dimiliki orang percaya. *Jika kita mengaku mengampuni orang, apakah pengampunan tersebut telah diberikan dengan segenap hati?* Pembunuhan dan kebencian adalah karakter yang menonjol setelah manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 dikali 7 kali dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Kualitas pengampunan yang diingini Tuhan adalah kualitas pengampunan yang penuh. Dengan demikian, berlaku prinsip *“bukan seberapa besar kita telah mengampuni seseorang, tetapi bagian kecil mana yang masih kita sisakan untuk menaruh perasaan benci?”* Tuhan menghendaki kita untuk memberi pengampunan secara total, seperti yang diungkapkan dengan istilah “tujuh puluh dikali tujuh kali.”
*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
15 February 2021
*RELASI PENGAMPUNAN DAN PERBUATAN KASIH*
Dalam Lukas 7:36-46, terdapat sebuah kisah yang menunjukkan relasi antara “pengampunan” dan “perbuatan kasih.” Kisah tersebut bercerita mengenai seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang dan makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu dan duduk makan bersama mereka. Kemudian ada seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa. Ungkapan ‘orang berdosa’ di sini merupakan sebuah bentuk sebutan yang dihaluskan untuk merujuk pada wanita tunasusila. Dalam Lukas 7:37-38 dituliskan, _“Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”_ Minyak yang digunakan dalam kisah ini adalah minyak narwastu dan bukan dari Timur Tengah, melainkan datang dari India. Minyak ini dapat digolongkan sebagai barang mewah. Ketika perempuan tersebut meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak tersebut, sebenarnya perempuan tersebut mempertaruhkan harga diri, nama baik, dan uangnya.
Kisah tersebut kemudian berlanjut demikian: _“Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.’”_ (Luk. 7:39-46).
Perlu diketahui, tradisi pada masa itu adalah jika ada orang yang dianggap penting datang ke rumah salah satu keluarga, maka tuan rumah akan membasuh kakinya lalu memercikkan minyak wangi. Tuhan membandingkan perlakuan orang Farisi tersebut dengan wanita ini. Orang Farisi itu tidak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, sedangkan perempuan itu mencuci kaki-Nya dengan air mata dan menyeka-Nya dengan rambutnya. Rambut merupakan mahkota perempuan, yang pada waktu itu biasanya terurai dan ditutup. Pada masa itu, rambut yang terurai dan tidak dikepang merupakan simbol dari seorang perempuan santun. Sebaliknya, perempuan yang mengepang-ngepang rambutnya adalah wanita yang tidak baik atau tunasusila. Oleh karenanya, dengan mengurai rambutnya, sebenarnya perempuan ini menunjukkan bahwa ia telah berhenti berbuat dosa.
Narasi ini mencapai klimaksnya ketika sampai di Lukas 7:47, _“Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.”_ Pengampunan yang diberikan ini disebabkan oleh karena perbuatan kasihnya kepada Yesus. Tuhan tidak akan memberikan pengampunan kepada orang yang tidak memiliki kasih kepada sesamanya. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat kasih kepada sesamanya, sesungguhnya dosanya yang banyak diampuni oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak merusak prinsip “keselamatan hanya oleh anugerah.” *Keselamatan dan pengampunan hanya hadir karena Yesus, namun perbuatan kasih yang ditunjukkan oleh seseorang mencerminkan bagaimana keadaannya yang mengasihi orang lain.* Orang yang mengasihi orang lain menunjukkan bahwa dirinya telah melepaskan dosanya dan berdamai dengan Allah. Sebab, sesungguhnya apa yang dilakukan seseorang demi sesamanya juga dilakukan untuk Allah. Orang jahat tidak akan memeroleh pengampunan. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, tetapi orang jahat yang diampuni dan tidak mau berubah akan kehilangan kesempatan. Sejahat apa pun seseorang akan diampuni. Tapi setelah diampuni, ia harus bertobat dan tidak berbuat jahat lagi.
*TRU✝H DAILY*
*ENLIGHTENMENT*
_Pdt. Dr. Erastus Sabdono_
16 February 2021
*DISELAMATKAN DALAM KASIH*
Masih dalam kisah perempuan berdosa yang datang kepada Yesus, kita dapat menemukan kebenaran bahwa seseorang yang menerima pengampunan harus memiliki moral dan keberadaan karakter seperti Tuhan. Pengampunan yang diterima oleh orang percaya memang diterima secara cuma-cuma dan bukan karena perbuatan baik. Akan tetapi, *orang yang diampuni pasti akan mengasihi sesamanya karena ia sadar bahwa ia adalah orang yang beroleh pengampunan.* Ia mengampuni bukan karena takut tidak diampuni oleh Tuhan, sebab ini standar yang sangat rendah. Ia mengampuni orang lain karena ia telah menerima pengampunan dan keberadaan serta karakternya diubah oleh Tuhan sehingga dapat menerima orang lain. Dengan kalimat lain, ia tidak bisa tidak mengampuni orang lain karena karakternya adalah karakter anak Allah.
Untuk sampai pada tahap mengampuni orang lain karena karakter yang diubahkan, seseorang harus bertumbuh dalam kebenaran. Roma 10:17 menyatakan bahwa iman seseorang timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Iman merupakan penurutan akan kehendak Allah. Dalam konteks ini, kehendak Allah adalah mengubah manusia yang memiliki keberadaan meleset menjadi sempurna. Oleh karenanya dibutuhkan sarana, yakni Firman atau kebenaran. *Kebenaran yang selalu didengar dan mewarnai nurani akan mengubah moralitas dan karakter seseorang*. Jika terus diasup dan dipraktikkan secara konsisten, maka kebenaran tersebut akan berbuah. Buah dari kebenaran yang didengar dan dipraktikkan adalah kehidupan seperti Kristus. Kehidupan seperti Kristus inilah yang membuat seseorang dapat berada dalam kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Allah. Ia memiliki standar moral di atas manusia lainnya dengan nurani yang telah diubahkan oleh kebenaran.
Perjumpaan dengan kebenaran ini harus disambung senantiasa dalam perjumpaan dengan Tuhan. Setiap kita harus menyediakan waktu untuk bermeditasi secara pribadi dengan-Nya. Sebab, dalam perjumpaan dengan Allah secara pribadi, kita dapat merasakan getar perasaan-Nya. Kita dapat memeroleh impartasi dari hadirat dan hati Allah sendiri. Jika orang yang bergumul dengan kuasa gelap bisa memeroleh ‘impartasi’ dari perjumpaannya dengan sosok kuasa gelap tersebut, maka bukan tidak mungkin kita bisa memeroleh perasaan Allah ketika menyediakan waktu berjumpa dengan-Nya. Hal ini sangat dibutuhkan, di samping kita berlama-lama membaca dan menerima pengetahuan tentang Allah. *Tidak ada orang yang lebih beruntung ketimbang orang yang berjumpa dengan Allah secara pribadi*. Ia bukan hanya mengetahui tentang Allah, tetapi ia dapat mengalami Allah sendiri. Melalui pengalaman nyata dengan Allah, kita dapat merasakan bagaimana perasaan Allah ketika berhadapan dengan kita yang rapuh ini. Secara tidak langsung, kita akan mampu mencerminkan perasaan belas kasih dan kemurahan pada orang lain yang bersalah kepada kita.
Perempuan berdosa yang datang kepada Tuhan diampuni karena ia mengasihi Tuhan secara luar biasa. Ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan orang pada umumnya, bahkan dapat dikatakan bahwa ia menerobos batas. Namun, *tindakannya mengurapi Tuhan dengan minyak dan air mata serta menyeka dengan rambutnya, menunjukkan bahwa ia tinggal dalam kasih.* Tidak heran jika Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dosanya telah diampuni sebab ia telah banyak berbuat kasih. Ia diampuni karena keberadaannya yang diubahkan oleh Tuhan. Tindakannya mencerminkan bahwa dirinya melakukan suatu pertobatan radikal dengan mencerminkannya melalui tindakan nyata.
Orang-orang semacam ini menunjukkan bahwa dirinya memiliki moral dan keberadaan karakter yang dikehendaki oleh Tuhan. Hendaknya, kita juga menunjukkan pengampunan kepada sesama berangkat dari moral dan keberadaan karakter yang diubah oleh Tuhan. Bukan sekadar takut tidak diampuni oleh Tuhan, melainkan tidak bisa tidak melakukan tindakan kasih, yakni mengampuni karena perubahan karakter yang kita alami. Jadi, sebelum kesempatan hidup yang Tuhan berikan ini berlalu dan kita akan kehilangan selama-lamanya, kita harus mau berubah. *Tuhan pasti akan proses kita dengan banyak kejadian sampai kita bisa memiliki hati yang tidak bisa tidak mengampuni orang.*