13/02/2026
Sebelum roh masuk ke tubuh, kita semua sudah pernah ketemu Allah. Di alam ruh itu kita cuma jiwa tanpa jasad, dan di situ kita bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita.
Imam Junaid menyebut ini mitsaq atau perjanjian primordial. Hidup di dunia bukan cari makna baru, tapi menepati janji lama yang kita sendiri lupa.
Lalu bagaimana cara kembali ke kondisi itu? Imam Junaid bilang kamu harus fana dulu.
Fana bukan mati fisik, tapi matinya kesadaran tentang dirimu sendiri. Bayangkan begitu terpesona sama Allah sampai kamu lupa kalau kamu ada.
Di tahap ini yang tersisa dalam pikiran cuma Allah. Tanpa ego, tanpa aku, tanpa kamu.
Tapi fana bukan tujuan akhir. Setelah lenyap dalam keterpesonaan, kamu dikembalikan lagi ke kesadaran. Namanya sahw.
Bedanya sekarang hatimu sudah bersih total dari hasil pengalaman fana tadi.
Di sinilah ujian sebenarnya, bukan saat kamu terbang di langit ketujuh, tapi saat kamu turun lagi ke bumi dengan hati yang sudah berubah.
Tauhid buat Imam Junaid bukan cuma ngomong la ilaha illallah. Tauhid itu perilaku baik di kehidupan nyata, bukan cuma hafalan sifat Allah.
Justru cara terbaik mengenal Allah adalah dengan mengakui bahwa kita tidak akan pernah bisa mengenal-Nya sepenuhnya.
Semua bayangan dan konsep kita tentang Allah harus dinafikan, karena Allah tidak ada tandingannya.
Jadi tasawuf Imam Junaid itu sederhana sebenarnya. Inget janji lama, latih diri sampai lupa diri, lalu kembali dengan hati baru untuk hidup lebih baik.
Bukan meninggalkan syariat, justru syariat dan tasawuf harus jalan bareng.
Makanya beliau jadi rujukan besar tasawuf Aswaja, bukan karena kitabnya banyak, tapi karena prinsipnya pas di tengah. Tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri.